4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup

10 September 2008

January 16th, 2008 posted by support

“Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray)

Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan. Baca entri selengkapnya »


Pengembangan Kepribadian dari Sudut Pandang Islam

6 April 2008

Kembangkan Diri Anda, Jika Tidak Matilah!

Oleh: Tim dakwatuna.com

Tanmiyah (perkembangan) asal katanya dari namaa yang bermakna terus bertambah banyak dan makna lainnya adalah tumbuh secara fisik bak tumbuh-tumbuhan dan jasad manusia. Akan tetapi istilah tanmiyah ini biasa digunakan pada bidang ekonomi dan perindustrian di masa kiwari. Dan orang selalu melekatkan pengembangan ini dengan pengertian ke arah industri dan perekonomian. Dalam ungkapan masyarakat modern saat kini istilah tanmiyah sering disebut dengan `pertumbuhan bidang pertanian, ekonomi, industri dan perbankan’. Baca entri selengkapnya »


Lima Cara Islam Berkepribadian

26 Maret 2008

Lima Cara Islam Berkepribadian

Untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan bukanlah sesuatu yang sulit, yang pasti ada banyak cara untuk memperolehnya. Namun yang terpenting adalah adanya kemauan dalam diri kita untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sebab dengan memiliki kepribadian ini bukan hanya dapat mempengaruhi kesehatan jasmani dan ruhani orang yang memilikinya, akan tetapi ia juga akan mendapatkan orang lain merasa nyaman berada di sisinya.

Maka dari itu, memiliki kepribadian yang menyenangkan bukan saja harus dimiliki oleh seorang dai yang setiap hari tugasnya adalah menyampaikan risalah dakwah kepada masyarakat, namun juga oleh siapapun, dan pada profesi apapun. Sebab hakekatnya manusia di manapun sama, ia akan tertarik kepada sesuatu yang ia lihat menyenangkan, dan akan lari dari sesuatuyang terlihat menjengkelkan.

Betapa senangnya hati kita, ketika kita mendapatkan banyak orang yang menghargai kita, menghormati kita, memperdulikan kita, namun bukan karena ada apa-apanya, tetapi semata-mata karena memang kita memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sungguh sangat sengsara seseorang yang selalu mendapatkan pujian orang banyak, sanjungan, perhatian, penghargaan, dan lain-lain, hanya karena orang-orang tersebut takut akan ketidakstabilan emosinya yang kemungkinan bakal mengancam masa depan hidupnya. Percayalah bahwa semua hal yang ia dapatkan berupa sanjungan itu hanyalah semu belaka dan tidak akan bertahan lama. Hal ini karena pujian itu tidak keluar dari dalam hati yang paling dalam, karena ia muncul bersamaan dengan adanya kepribadian yang tidak menyenangkan.

Dalam kesempatan ini, akan saya sampaikan bagaimana cara islami memiliki kepribadian yang menyenangkan, semoga dapat merubah hidup kita menjadi lebih dicintai oleh manusiasemata-mata karena mereka merasa nyaman berada di sisi kita.

1. Memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain.

Salah satu sifat seorang muslim yang berjiwa besar adalah, dalam dirinya selalu tersimpan rasa ingin selalu berkhidmat kepada orang lain dan bukan meminta dikhidmati oleh orang lain. Karena ia merasa yakin bahwa sebanyak itu ia memberikan perhatian kepada orang, sebanyak itu pula ia akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Orang lain tak ubahnya sebagai refleksi dari pada diri kita sendiri.

Pepatah melayu mengatakan, “jika buruk wajah jangan lalu cermin yang dipecah” tetapi perbaikilah bentuk dan raut wajah, niscaya cermin itu dengan sendirinya akan mengeluarkan pantulan yang indah. Nah, salah satu yang dapat memantulkan bayangan indah dari cermin orang lain itu adalah prilaku kita yang senantiasa ingin memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Tidak ada yang dapat membahagiakan hati kita, kecuali jika kita telah benar- benar membantu dan meringankan beban orang lain, tentu dengan satu keyakinan bahwa Allah Swt.akan senantiasa meridoi segala apa yang kita perbuat.
Ada satu hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud, di mana Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang diserahi amanat untuk mengurus kebutuhan umat, namun ia lalai atau tidak memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakan mereka, maka Allah swt. akan memperlakukannya sama dengan tidak akan memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakannya di akherat kelak”.

2. Lemah lembut dan dapat mengontrol emosi

Dalam hidup ini, terkadang dalam hati kita sudah tertanam untuk tidak melakukan perbuatan buruk yang bakal merugikan orang lain, namun perbuatan buruk itu bisa jadi muncul dari orang lain. Ada saja perbuatan orang lain yang membuat kita merasa jengkel dan panas hati, boleh jadi perbuatan tersebut disengaja atau tanpa disadarinya. Seseorang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan, ia tidak lantas main hantam dan menyalahkan secara kasar. Namun yang ia lakukan adalah memberikan masukan secara bijak dan penuh kearifan. Boleh jadi dengan kearifannya ini akan membekas di hati orang yang berbuat salah kepadanya, sehingga di hari kemudian orang tadi menjadi orang yang selalu merasa takut berbuat kesalahan sekecil apapun berkat nasehat dan masukan yang arif tersebut.

Sungguh besar pahala kita jika kita mampu merubah jalan hidup orang lain hanya semata-mata sikap lemah lembut dan kemampuan kita mengontrol emosi itu. Ketimbang, jika yang kita lakukan adalah memaki dan memarahinya seolah-oleh tidak ada kata maaf dan introspeksi dalam kamus diri kita. Rosulullah Saw. adalah tauladan yang paling baik, bagaimana beliau bersikap terhadap orang ‘ndeso’ yang pernah menjambak selendang beliau di tengah orang banyak secara kasar, sampai-sampai akibat jambakan tersebut leher Rosulullah merah memar. Lalu orang itu dengan keras berkata, “Wahai Muhammad beriakanlah sebagian harta yang kau miliki…” Para Sahabat yang ada di sekitar nabi ingin marah, tapi sikap Rasulullah ketika itu malah memberikan senyumannya kepada orang itu, lalu dengan penuh kasih sayang beliau berikan seledang yang beliau punya kepada orang tadi.
3. Mampu memberikan reward dan empatik kepada orang lain

Salah satu ciri orang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan adalah ia mudah memberikan reward atau penghargaan berupa pujian tulus kepada orang yang telah berbuat baik sekecil apapun. Kata-kata seperti, “oh, memang betul-betul hebat kamu yah, atau, “wah, coba kalau tidak ada kamu tadi, bisa lain urusannya”, dan lain-lain yang menggambarkan bahwa kita benar-benar dapat menghargai karyacipta orang lain. Coba kita bandingkan dengan ungkapan berikut, “ah, kalau itu sih siapa juga bisa”, atau “yah, lumayan lah nggak jelek-jelek banget sih” dan yang semisalnya.
Betapa kata-kata ini menampakkan kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan orang lain. Coba kita lihat bagaimana Rosulullah ketika ada sesorang yang sedang bicara dengannya, maka dengan penuh khusuk beliau hadapkan badan, telinga, dan matanya untuk memperhatikan lawan bicaranya, dan tidak pernah beliau memotong pembicaraan orang tersebut, sampai ia benar-benara telah selesai dari pembicaraannya. Hal ini betapa beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu menghargai orang lain, dan inilah caranya agar kita dapat memiliki kepribadian yang menyenangkan sehingga orang lain merasa nyaman berada di sisi kita.

4. Tidak membuang muka kepada orang yang suka maksiat

Dalam lingkungan kita terkadang ada orang yang dianggap sampah masyarakat. Kegemarannya adalah mencari keonaran dan membuat kerusuhan dalam masyarakat. Banyak orang yang dalam menghadapi orang semcam ini, malah mengucilkannya. Sampai-sampai ada kesepakatan untuk tidak melakukan hubungan dengan orang tersebut. Sebagai seorang muslim yang kuat, yang tentunya memiliki keyakinan akan adanya kebaikan dalam diri orang tersebut, kita tidak boleh lekas-lekas memutuskan hubungan dengannya.

Akan tetapi kita berusaha untuk selalu mencari celah mengajaknya kembali kepada jalan yang benar. Bahkan harus kita ciptakan strategi yang membuatnya dapat luluh untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang tercela itu. Terkadang untuk mewujudkan hasil ini, perlu sesekali kita mengikuti dunia hitam yang orang itu geluti seperti dunia malam, hiburan, perjudian, dll…namun ada satu misi yang kita tuju, yaitu kita akan merubah jalan hidup orang tersebut sekiranya kita telah berhasil meraih hati orang tersebut.

Ada satu contoh yang menarik dari cara dakwah seorang wali songo yang ikut menggunakan wasilah musik dan kesenian daerah untuk dijadikan sarana dakwah, ia gunakan wasilah yang sama namun isi dari pertunjukan itu ia rubah menjadi nada-nada dakwah kepada jalan Allah. Berapa banyak orang yang awalnya tidak tau agama lalu menjadi tertarik dengan ajaran agama dengan cara seperti itu. Kuncinya adalah, agar kita tidak lekas memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang kadung dianggap sebagai sampah masyarakat.
5. Tidak bersikap angkuh

Banyak orang mengira bahwa dengan bersikap angkuh akan menjadikan diri kita disegani oleh orang lain, yang betul justru sebaliknya orang akan enggan bergaul dengan kita. Dalam realitas hidup bisa jadi ada orang yang merasa minder melihat kesuksesan hidup yang diraih oleh kita misalnya, rasa minder ini lalu akan melahirkan rasa rendah diri dan kurang bersahabat dengan kita. Pada saat inilah kita perlu menunjukkan sikap rendah hati kita untuk memulai mencairkan kondisi dengan bersikap ramah dan tawadu kepada mereka. Hal ini pula yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, ketika ada seseorang yang hendak menghadap kepada beliau untuk suatu keperluan, namun karena besarnya wibawa rasulullah maka orang tersebut menjadi gugup dan tidak percaya diri, dengan santun kanjeng Nabi berkata, “santai saja, Aku bukanlah Malaikat, aku hanyalah seorang anak ibu dari suku Quraisy yang juga sama-sama makan bubur nasi”.

Sikap tawadu inilah yang membuat suasana menjadi cair dan berjalan normal, sehingga orang lain merasa senang berada disisi kita. Lalu coba kita bedakan dengan sikap syetan yang berkata, “sesungguhnya Aku lebih mulia dari Adam, karena aku diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah,” (Q.S. Shad:76).

Demikianlah di antara cara bagaimana memiliki kepribadian yang menyenangkan, semoga dengan bekal cara ini kita dapat memperoleh target dari sebuah pergaulan hidup yaitu menyebarkan keindahan-keindahan ajaran Allah Swt, baik dengan cara lisan maupun dengan amal perbuatan. Siapa tau, banyak orang yang tertarik kepada Islam bukan hanya disebabkan keindahan ajarannya saja, namun karena ketertarikan mereka kepada perangai yang menyenangkan dari yang kita miliki itu. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
 
Ustadz Muladi Mughni, Lc.
http://www.pesantrenvirtual. com
 


Bersiap Menghadapi Kehilangan

26 Maret 2008

BERSIAP MENGHADAPI KEHILANGAN

Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN?
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah,menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri.Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar? Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi. Baca entri selengkapnya »


Pola yang mana hidup anda ?

10 Maret 2008

Posisi – Kecepatan – Percepatan ( y , v , a )

Ternyata dalam hidup ini berlaku juga ilmu posisi, kecepatan dan percepatan.
Dalam kehidupan terdapat 3 pilihan mental manusia dengan jenis masing2.. hal terburuk adalah apabila kita menjadi seseorang dengan mental “posisi”, karena didalam ilmu fisika, posisi adalah kedudukan sebuah benda sebelum dia bergerak. lalu ada lagi seseorang dengan mental “kecepatan”, di dalam ilmu fisika kecepatan adalah hal yang konsisten.. dan ada lagi seseorang dengan mental “percepatan”, dimana kita terus meningkatkan kecepatan setiap detiknya.. Baca entri selengkapnya »


Siapa Takut..?

5 Maret 2008

Siapa Takut J
Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
 
Seorang teman menyampaikan ke saya bahwa kalau saya mau menulis sehari satu kejadian, satu minggu 7 artikel, 1 bulan 30 artikel dan satu tahun 365 artikel.  Berarti saat ini saya sudah punya buku J.  Tentu saja jangan membayangkan bahwa buku tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit J karena lebih kepada banyaknya kumpulan artikel saya,  jika saya konsisten sehari satu saja minimal.  Menulis apa saja, kejadian apa saja.

Sebenarnya saya takut sekali menulis, takut tidak bisa, apalagi menerima kenyatan bahwa tulisan saya masih tendensius bahasanya.  Masih menyindir orang dengan kasar mungkin.

Dulu…. Seorang sahabat yang sangat saya sayangi mengkomplain buku harian saya yang tidak sengaja dibacanya.  Katanya tulisan saya memojokkan dirinya, dan dia tidak senang saya menulis begitu.  Saat itu saya berhenti menulis di diari saya.  Mampet total rasanya.

Saya mencoba menulis lagi setelah beberapa tahun berlalu, dengan awalan yang mungkin sangat terasa kaku, saya menemukan gaya tulisan saya yang ceria.  Tapi sebuah kejadian yang sangat mengecewakan saya terjadi dan saya berhenti menulis lagi.  Rasanya sense saya melihat sekitar hilang lagi.

Beberapa minggu kemudian saya mencoba menulis sesuatu, apa saja, bahasa yang kaku, kalimat yang belum focus ke inti permasalahan, saya biarkan saja dengan harapan akan berkembang seiring waktu.  Practise make perfect katanya.

Tapi kali inipun tanpa dinyana tanpa diduga, seorang sahabat yang sangat saya sayangi kembali keberatan dengan gaya tulisan saya yang isinya menyindir.  Mungkin kelihatan sekali dari kalimat yang masih to the point.  Masih membuat orang yang membaca sakit hati. 

Masalahnya sekarang adalah, apakah saya harus berhenti menulis lagi, ataukah malah lebih rajin menulis agar bahasa saya terlatih dan bertambah baik hasilnya.

Ada baiknya saya terus menulis, mungkin tulisan tulisan saya akan menyakiti perasaan beberapa orang.  Tapi jika saya berhenti, saya tidak akan pernah tahu apakah saya bisa menulis dengan baik atau tidak.  Seperti kata Valentino Rossi di otobiografinya What If I had Never Tried It  Valey bisa menjadi juara dunia karena mencoba pada awalnya.  Dan tentu saja tidak mudah mengawali sesuatu.

Jika kita tidak memcobanya, bagaimana kita punya kelanjutannya.

Seorang teman bilang : Jika tidak punya mimpi, bagaimana bisa mewujudkan mimpi dalam kenyataan.

Jadi……… menulis…………. Siapa takut J

Buat Sahabatku :

Maaf jika tulisanku menyakiti hati, tapi jika saya berhenti dan tidak berlatih, aku tidak akan tahu apakah aku bisa menulis dengan santun atau tidak.
 
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh//
Whe~en
http://wheen.blogsome.com/