Nasionalisme.. ? Apa itu .. ?

Nasionalisme..? Apa Itu ?

Nasionalisme.., kata kata yang aku ingat sering sekali di sampaikan oleh guru SMP ku waktu itu. Pak Agus Purnomo namanya.

Dengan semangat dan logat jawanya, beliau selalu membakar semangat kami untuk selalu mengingat jasa jasa pahlawan serta

memiliki rasa cinta tanah air. Beliau juga yang seringkali mewakili kepala sekolah dalam menyampaikan petuah petuah saat apel

bendera hari Senin pagi. Kalau siswa siswa yang lain mendengarkan petuah beliau sambil ogah ogahan berpanas panas dilapangan

(sambil bergaruk garu kaki dengan kaki yang satunya), sementara aku dan Helmi sahabatku mendengarkannya sayup sayup dari

salah satu kantin sekolah kami di pojok dekat pintu gerbang selatan sekolah sambil makan ubi goreng dengan sambel pertisnya.

Suatu ketika kami (ber enam saat itu) tertangkap basah oleh pak Imam (guru olah raga) ketika bolos apel bendera. Tak ayal

kami digiring ke kantor BP (bimbingan pelajar) untuk dihadapkan dengan Ibu Ramlah Iskak (kepala sekolah merangkap BP). Jangan

membayangkan seorang Ibu yang ramah dan penuh senyum :-)(. Justru sebaliknya, beliu dikenal dengan sosok emosional dan tak

segan segan mendamprat siswa yang melanggar aturan sekolah.

Aku masih sangat ingat dialog yang terjadi saat itu. Ketika satu persatu kami ditanya tentang alasan tidak mengikuti apel

bendera, satu persatu temanku menjawab dengan dengkul gemetar sambil menundukan kepala dalam dalam. Misalnya si Nian menjawab

“…m..a..af bu…, tadi saya ke..ke sia..ngan ba..nguun…”. Hmm….suatu jawaban kelasik yang justru memantik kembali

kemarahan sang kepala sekolah. Tibalah giliranku….”..kamu…sudah kali ke tiga dalam 2 bulan terakhir kamu dilaporkan tidak

mengikuti apel pagi…., apa sebenarnya mau mu…? beliau meninggikan intonasi suaranya sambil memelototkan mata yang

menurutku sudah cukup galak walaupun dalam keadaan beliau tertawa.

Entah jin atau malaikat mana yang membimbing jawaban ku saat itu, dengan enteng nya aku menjawab “…ma’af bu.., saya memang

sengaja tidak ikut apel bendera. Terus terang saya bingung apa sebenarnya manfaat dari apel bendera itu. Setiap hari senin

pagi kami diwajibkan berjemur dipanas terik, bahkan seringkali ada beberapa teman yang pingsan karena gak kuat. Lalu kita bersama menghormat bendera dua warna itu.Pak Agus seringkali mengucapkan bahwa kita harus memupuk rasa cinta tanah air yang beliau sebut rasa Nasionalisme. Ma’af Bu….., sulit sekali rasanya menjalankan wejangan pak Agus itu, sementara kakak saya masih menganggur setelah menggapai gelar sarjananya. Lalu kemarin ada kecelakaan di depan rumah saya yang merenggut jiwa pengendaranya karena masuk lubang jalan yang memang sangat parah, sementara listrik di rumah saya selalu mendapat giliran padam setiap 3 hari dalam satu minggu, sementara air bersih sebagai sesuatu yang langka didapatkan, sementara banyak warga miskin mati karena tidak sanggup bayar rumah sakit yang juga pas pasan fasilitasnya, sementara….., ” sudah…!! bicara apa kamu..?!!”..Bu Ramlah memotong cerocosanku sambil membentak.

“..ma’af bu.., menurut saya, akan lebih baik waktu yang kurang lebih Empatpuluh lima menit untuk apel pagi itu kita gunakan untuk belajar di kelas, agar kita semua di sini bertambah pandai dan cerdas,agar kita bisa lebih memperjuangkan hak hak kita, agar kita bisa mengolah sendiri batu bara yang setiap hari lewat bergunung gunung di atas ponton di sungai mahakam sementara kita hanya melongo menonton diatas jalanan becek, sementara Hutan kita diangkut, Gas bumi kita diangkut, minyak bumi kita diangkut, emas kita diangkut….., ” sudah…sudah….!!..”yang lain keluar…kamu tinggal diruang saya…” sela Bu Ramlah sambil menunjuk ke arahku.

Ma’af Bu…, saya tetap berterima kasih pada para pejuang kemerdekaan tanah air saya, tapi saya benci..sangat benci dengan orang orang yang memerintah diseberang sana. Mereka keruk harta kekayaan bumi Borneo ini…sambil menjejalkan slogan slogan Nasionalisme basi…dan jargon jargon heroik yang tengik. Apa mereka pikir perut tetangga saya bisa kenyang dengan kain kain spanduk itu ? apa mereka pikir aspal mengkilat jalan hotmik seperti di tanah jawa sana cukup diganti dengan menyanyi lagu Indonesia Raya sambil berdiri di jalan jalan becek ? apa mereka pikir kita kita disini tidak membutuhkan air bersih 24 jam juga ? apa mereka pikir kita belajar dirumah hanya cukup dengan lampu lilin karna listrik yang hanya bisa dinikmati senin kemis..? apa mereka pikir……, ” sudahlah anakku….., Ibu paham apa yang bergejolak dalam hatimu…..ibu paham..”

Hmm…aku kaget, tiba tiba Bu Ramlah yang dikenal galak itu suaranya sangat halus dan memegang tanganku dengan penuh kasih sayang…” (bersambung)….

4 Balasan ke Nasionalisme.. ? Apa itu .. ?

  1. Anto S mengatakan:

    Ibu guru Anda benar. Tidak semua pemimpin begitu, ada yang rakus ada yang tidak, ada yang jujur ada yang curang. Biarlah mereka memakan hasil yang mereka tuai. Pasti.

  2. Jimi mengatakan:

    Nasionalisme adalah,
    ( nasi kolonial isme )

  3. haryanto mengatakan:

    top cerritanya jimy thx

  4. Dartopranoto mengatakan:

    Pak Anto bener xxx tu….siapa yang menabur angin pasti dia menuai badai….begitu kan pak

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: