Mematahkan Dominasi SBY

Sejak hari pertama pemilihan legislatif hingga tulisan ini dibuat (2 minggu sesudahnya), dominasi partai Demokrat masih menguasai perolehan suara teratas. Angka 20 % nasional tetap tak bergerak turun.

Secara logika dan banyak fakta dilapangan, jumlah pemilih partai Demokrat tersebut bisa dikatakan merupakan cerminan angka minimal bagi SBY pada pemilihan Capres yang akan datang. Karena dapat disinyalir setiap pemilih Demokrat sudah tentu lebih banyak dilatarbelakangi oleh “sihir” kharisma SBY (mengenai “Sihir” kharisma SBY ini sudah penulis tuangkan dalam tulisan sebelumnya). Karena kecil kemungkinan para pemilih yang 20 % itu, memilih demokrat karena tertarik oleh kualitas para calegnya, apalagi (boro boro) karena hebatnya visi partai. Dengan demikian hampir sudah dapat dipastikan bahwa ketika pilpres nantinya mereka yang 20 % tersebut juga akan memilih SBY (bahkan mungkin mereka sudah tidak terlalu perduli siapa pasangan wapresnya), “mpokoknya SBY….!”. Tambahan suara SBY sangat mungkin akan didapatkan juga dari partai lainnya, seperti para pemilih partai Golkar (misalnya) atau PAN, PKS, PKB bahkan dari partai kecil diluar 10 besar. Kenapa bisa dapat dari partai Golkar ? bukankah kalau JK mencalonkan diri jadi Capres maka suara pemilih partai golkar juga 100 % ke JK ? Itulah bedanya, pemilih partai Golkar yang (hanya) 14 % tersebut belum tentu bulat ke JK. Apalagi di internal Golkar sendiri sudah terdapat beberapa faksi yang saling berebut pengaruh. Begitu juga dengan PDIP (misalnya), sulit dijamin akan bulat ke Megawati walaupun PDIP termasuk partai yang memiliki basis massa militan.

Dominasi SBY memang sulit ter-bantah. Kenyataan dan fakta tersebut tentu saja harus diperhitungkan oleh siapapun yang akan “melawan” SBY. Lalu masih adakah peluang untuk mematahkan dominasi SBY ?

Saya melihat masih ada. ..!

Hal itu sangat tergantung dari PDIP (baca Megawati) dan Golkar. Para petinggi ke 2 partai ini harus berani berpikir “Out of Box”. Yaitu berani berpikir mencari alternatif di luar dari frame yang sudah karatan selama ini. Frame karatan yang saya maksud adalah ; PDIP selalu menentukan bahwa Megawati sudah harga mati menjadi Capres tanpa bisa ditawar. Frame tersebut sebenarnya tidak terlepas dari pola yang ditanamkan Megawati di tubuh PDIP (ambisi Megawati untuk menjadi presiden kembali, menutup mata dari realita bahwa sebenarnya kharismanya sudah habis). Pola “kediktatoran” tersebut membuat tidak ada yang berani melawan “titah” nya. Kondisi inilah yang sebenarnya menjelma menjadi mesin bunuh diri bagi PDIP. Selama PDIP hanya membuka peluang untuk Cawapres dengan Capres harga mati Megawati, maka lupakan kursi presiden 2009 – 2014. Memaksakan hal tersebut sama saja hanya akan buang buang “peluru” (baca: uang) yang tak akan mampu merubah status quo. Anak saya yang masih kelas 5 SD saja, sudah bisa sangat gamblang membaca peluang tersebut. SBY vs Mega bisa diangka 70 % versus (hanya) 30 %. Atau paling beruntung 60 & 40.

Lalu bagaimana konkritnya kesempatan melawan dominasi SBY yang saya maksud ?

PDIP & Golkar harus bersatu (jangan pernah lagi membaca hal tersebut sama dengan Megawati & JK), lupakan 2 kandidat yang sudah “tidak menjual” tersebut. Ke 2 partai juara 2 & 3 itu harus merangkul sebanyak banyaknya partai sisa yang ada. Masih ada 35 partai yang masih bisa dirangkul untuk bersatu membentuk koalisi diluar Demokrat atau PKS dan PAN (yang nampaknya akan merapat ke Demokrat atau beroposisi sendiri). Sehingga petanya akan menjadi : Demokrat, PKS & PAN berhadapan dengan 35 sisa partai lainnya. Secara kelembagaan hal tersebut sudah dapat menjadikan posisi nampak berimbang.

Kemudian siapa capres yang bisa diusung ?

Koalisi dari 35 partai harus membuka seluas luasnya kesempatan bagi siapa saja, dari kader partai mana saja, bahkan kalau perlu non partai untuk diusung menjadi Capres dan wacapres. Kalau melihat dari trend pemilih di Indonesia, sebenarnya tidak begitu sulit untuk mencari Capres yang “menjual”. SBY sudah terbukti dengan keberhasilan “seni perannya” (dia sangat piawai menjual “kegantengannya” dan piawai untuk menentukan kapan harus tampil bersahaja, tegas, lemah lembut bahkan kapan harus menangis sekalipun). Masih ingat peristiwa bagaimana SBY menelpon komandan pasukan tentara Indonesia yang bertugas di palestina ? Dengan gaya bahasa tentaranya, sang presiden sedang menginstruksikan pada komandan yang sedang bertugas di Palestina sambil disorot oleh banyak media . Hal tersebut sebenarnya sekedar ingin menampakkan kesan tegas yang selama ini banyak diserang lawan politiknya. Bukankah kalau memang ingin memberi instruksi bisa dilakukan dalam kamar kerjanya saja tanpa harus dihadapan banyak media ? Itu hanya sebahagian kecil dari kepiawaian SBY (atau lebih tepatnya tim suksesnya) mengolah seni peran SBY selama 5 tahun kekuasaan mereka.

Kembali kepertanyaan, siapa yang patut diusung untuk melawan SBY ?

Tokoh tokoh seperti ; Fadel Muhammad yang dipasangkan dengan Muhaimin (misalnya), akan lebih berpeluang dibandingkan dengan Mega dan JK. Fadel bisa merebut pemilih bagian timur Indonesia (baca: Kalimantan, Sulawesi, Nusa tenggara dll), sedangkan cak Imin bisa merebut Jawa. Sehingga SBY bisa jadi hanya kebagian Sumatra dengan demokrat, PKS dan PAN nya. Atau yang lebih “out of box” lagi, bisa saja memasangkan Deddy Mizwar & Rano Karno (hmm…mungkin ini ide gila ya)..atau Fadel – Deddy dll. Tapi sekali lagi kombinasi pasangan tersebut menurut saya masih lebih memiliki peluang meraup suara daripada Mega – Prabowo, Mega – Sultan, Mega – Wiranto bahkan Mega – JK sekalipun, yang sudah dapat dipastikan akan di bawah SBY.

Lalu apa lagi yang bisa dilakukan ? Issue kampanye.. !!

Ya..issue kampanye Capres / Wacapres dari koalisi 35 partai tersebut harusnya yang lebih konkrit. Misalnya saja untuk menarik pemilih pemula dan mahasiswa, bisa mengusung issue sekolah atau kuliah murah. Bisa dengan cara mengembalikan subsidi pemerintah yang sempat dicabut pada universitas universitas negeri ternama. Sehingga biaya kuliah yang saat ini jadi melambung akan kembali terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Issue lainnya masih seputar pemilih pemula. Misalnya akan mengganti sistem UN yang menjadi momok menakutkan bagi para siswa saat ini (khususnya bagi sekolah diluar jawa) menjadi sistem yang lebih mewakili otoritas daerah. Sehingga sistem target kelulusan siswa akan disesuaikan dengan tingkat kemampuan daerah dalam mengelola kualitas sekolahnya. Langkah langkah yang saya paparkan diatas saya yakini sedikit banyak akan menambah peluang untuk “mematahkan” dominasi SBY, minimal dapat mengimbangi peluang kemungkinannya. Daripada hanya mengutak atik peluang semu seperti, Mega – Sultan, Mega – Prabowo, Mega – …………………, hmm…sebaiknya lebih realistis.

Semoga Indonesia lebih baik !!

Oleh : Aulia Muttaqin Psi. (Penulis adalah ; Psikolog praktisi Industri, pengamat politik)

Satu Balasan ke Mematahkan Dominasi SBY

  1. chualim mengatakan:

    Hidup SBY…
    SBY go to president 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: