Politik Indonesia & Seni Peran

Sedikit menengok ke belakang, mengingat peristiwa pemilu 2004 ketika pertama kalinya bangsa Indonesia memilih langsung presidennya. Dimana kali pertama juga bagi saya menggunakan hak pilih, walaupun hak pilih tersebut sebenarnya sudah saya miliki sejak Empat Pemilu sebelumnya.

Ada dua hal krusial mengapa saya tertarik menggunakan hak pilih saya saat itu. Pertama adalah faktor Amin Rais yang bagi saya merupakan alternatif terbaik dari beberapa sosok tokoh negeri ini. Faktor ke Dua adalah munculnya fenomena menarik seputar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memunculkan rasa salut saya atas efektifnya sistem rekrutmen mereka, sehingga mampu menjaga konsistensi kebersihan para anggotanya. Sebuah fenomaena yang belum mampu ditunjukkan partai lainnya yang sibuk dengan caruk marut moral para anggotanya.

Pemilu 2004 sudah berlalu, dan kita semua sudah tahu hasilnya. Amin Rais & Siswono terpuruk diurutan ke Tiga setelah pasangan SBY – JK dan Megawati – Hasyim. Hmm…demokrasi, ya..itulah demokrasi. Dimana kemudian pasangan SBY – JK lah yang tampil sebagai pemenang.

Pada kesempatan ini saya ingin sedikit mengulas tentang beberapa faktor penyebab utama kemenangan SBY dan sebaliknya beberapa faktor penyebab kekalahan Amin Rais.

Masih segar diingatan kita bagaimana sososk SBY begitu melambung popularitasnya justru setelah pihak Megawati (dan suaminya Taufik Kemas) begitu berusaha untuk menjatuhkannya. Serangan demi serangan politik dilancarkan pihak Megawati dan diekspos besar besaran oleh pers, justru seperti suatu gerakan berbalik menyokong kepopuleran SBY. Semua fenomena tersebut saya pikir tidak terlepas dari hebatnya tim sukses yang berada dibelakang SBY memanfaatkan momen tersebut. Mereka olah sedemikian rupa issue yang ada sehingga kesan SBY di dzolimi, serta sebagai pihak yang dianiaya dan disudutkan sangat menonjol. Media massa Indonesia setiap harinya di “hujani” oleh foto foto melankolisnya SBY dan komentar komentar pedasnya pihak Megawati, hingga berhasil menarik simpati sebahagian besar potensi pemilih bangsa ini.

Sayangnya setelah berhasil menggenggam kekuasaan, aksi seni peran melankolis ala SBY tersebut semacam candu yang digenggam erat oleh SBY dan tim suksesnya. Hari demi hari kepemimpinan SBY hanyalah sandiwara demi sandiwara yang harus dijalani-nya untuk “memelihara image” dibenak pemilihnya. Sama sama kita lihat bagaimana gaya bicaranya yang melalui kacamata psikologi saya adalah gaya yang dibuat buat dan semacam seni peran yang canggih. Bagaimana pada momen momen tertentu SBY “diharuskan” marah oleh tim suksesnya dan diekspos media massa agar mengikis kesan dan issue politik selama ini tentang ketidak tegasan SBY. Lalu kemudian bagaimana ia tampil sebagai sosok penuh kasih dan berperasaan ketika menangis di gempa Jogja dan Tsunami Aceh. Lalu iklan politiknya ketika mengucapkan selamat di hari Ibu dengan mengekspos foto dan film yang menonjolkan “kegantengannya”.

Ha..ha.., bagi saya hari hari SBY penuh dengan aturan aturan peran oleh para sutradaranya dibalik layar. Tapi itulah politik..! Lalu bagaimana dengan Amin Rais ?

Hmm.., ternyata tokoh yang pernah menjadi pilihan saya ini merupakan sosok yang kurang mampu belajar dan membaca kelemahannya. Ia masih saja suka tampil dengan bahasanya yang bagi para petani, nelayan, santri, buruh dan jajaran grass root lainnya sebagai bahasa planet. Ia masih saja tampil dengan gaya ekslusif akademisi tanpa menghiraukan bahwa lebih dari Lima puluh persen pemilih di Indonesia ini adalah kaum yang belum memahami gaya gaya seperti itu. Mungkin Amin Rais belum pernah mendengar bagaimana komentar para penduduk di desa trunggulun Jatim sana ketika ia bicara di TV. Rata rata komentar mereka “…ngomong opooo ikuw…” sambil berlalu. Apakah Amin Rais berharap mereka mereka itu akan mencoblos gambarnya dibilik pemilu ? ah….jauh panggang dari api.

Semoga akan muncul lagi sosok sosok alternatif yang ideal serta cerdas dalam mensiasati politik negeri ini sehingga saya kembali tertarik menggunakan hak pilih..!

Oleh ; Aulia Muttaqin Psi

(Penulis seorang Psikolog pemerhati politik, tinggal di Samarinda , East Borneo)

Tulisan ini dipublikasikan di http://www.auliamuttaqin.wordpress.com

Satu Balasan ke Politik Indonesia & Seni Peran

  1. Ches mengatakan:

    Menurut saya gak ada pemilihan langsung Presiden RI selama masih bisa dimodifikasi oleh elit politik. seperti Poros Tengahnya Mr.A 2004. What’s up?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: