Sekolah lebih pagi ? Kecerdasan menurun..!!

by : Siagian Priska Cesillia
Sekolah terlalu pagi berpotensi menurunkan kecerdasan anak.
http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Kesehatan&rbrk=&id=74217&detail=Kesehatan

WAKIL Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengumumkan per Januari 2009, jam masuk sekolah anak-anak sekolah akan dimajukan menjadi pukul 06.30 WIB, dari sebelumnya pukul 07.00 WIB. Dasarnya adalah untuk mereduksi kemacetan sebesar 6-14 persen. Bagaimanakah sisi kesehatan menangkap niatan Pemerintah Provinsi Ibu Kota ini?

“Hal ini dapat mengganggu metabolisme tubuh anak dan memengaruhi kesehatan emosional dan daya tangkapnya menerima pelajaran,” kata Dr Andreas A Prasadja kepada Jurnal Nasional.

Dokter spesialis kesehatan tidur atau Sleep Technologist ini kemudian menjelaskan bahwa jam biologis atau circadian rhythm adalah ritme yang mengatur semua aktivitas fisik secara periodik. Di mana pada pengaturan tidur dan bangun, jam biologis akan memberikan rangsangan. “Ketika harus terjaga, tubuh akan memberikan rangsangan terjaga. Sementara ketika utang tidur, tubuh akan memberikan rasa kantuk,” katanya seraya menyebutkan bahwa sepanjang hari keduanya berebut pengaruh.

Dokter yang mendirikan laboratorium tidur bekerja sama dengan RS Mitra Kemayoran ini kemudian memberikan gambaran. Bahwa ketika bangun pagi, utang tidur tidak ada. Ini kemudian direspons jam biologis dengan memberikan rangsang terjaga. “Puncak aktifnya, sekitar jam 10 pagi. Sehingga, utang tidur kalah,” Inilah yang kemudian membuat jam biologis menurun. Akibatnya, setelah makan siang, tubuh bereaksi dengan rangsangan mengantuk. “Namanya after lunch circadian dipping dan tidak ada hubungannya dengan habis makan, kenyang, lalu mengantuk,” katanya.

Memasuki sore hari, Andreas menyebutkan bahwa aktivitas jam biologis akan kembali naik. Sehingga, membuat seseorang terjaga dan berlanjut sampai saat malam yang membuat utang tidur menumpuk. “Itulah mengapa pada jam bugar sebaiknya kita beraktivitas. Dan ketika jam mengantuk kita istirahat,” kata Andreas.

Menurutnya, jika pada orang dewasa waktu tidur 5-6 jam sudah cukup, tidak demikian halnya bagi anak-anak. Usia sekolah dasar, kecukupan tidurnya adalah 9-10 jam. Di mana umumnya mereka baru mulai tidur ketika pukul 8-9 malam. Artinya, mereka sebaiknya bangun pukul enam pagi. “Itulah mengapa idealnya pelajaran mulai jam delapan pagi,” kata Andreas menekankan. Sehingga, ketika jam biologis memberikan reaksi aktif, mereka akan menerima pelajaran dengan baik.

“Karena, yang terjadi jika mereka berangkat sekolah pada saat harusnya tidur, maka emosional dan daya tangkapnya terhadap pelajaran pun tidak optimal,” kata Andreas. Di Amerika Serikat, bahkan ada gerakan memundurkan jam masuk sekolah menjadi 8.30 untuk memberikan privilege kepada anak-anak mendapatkan waktu tidur yang cukup. “Alhasil, prestasi akademis dan olahraga mereka pun meningkat. Bahkan, kenakalan remaja serta absensi berkurang, hanya dengan menambah jam tidur satu jam,” katanya lagi.

Penelitian yang dilakukan pada 2004 itu, menurut Andreas, juga didasari bahwa pada anak-anak, waktu tidur adalah waktunya memproduksi hormon pertumbuhan. Di mana salah satu hal terpenting yang dimiliki hormon pertumbuhan adalah menciptakan perisai daya tahan tubuh. “Akibat dari hormon pertumbuhan yang tidak maksimal akan membuat status emosionalnya menjadi labil. Belum lagi dengan tingkat kemacetan yang parah, membuat anak-anak harus bangun lebih pagi,” katanya.

Bisakah anak-anak mengganti utang tidur mereka dengan tidur siang? Menurut Andreas, dengan masuk sekolah pukul 6.30, maka minimal anak-anak harus bangun pukul 5.30 (ada anak-anak yang harus bangun pukul 04.00 bila jarak sekolah-rumah sangat jauh). Ketika pukul dua siang sepulang sekolah, mereka belum mengantuk karena jam biologis baru memasuki waktu aktif. “Belum lagi, anak-anak zaman sekarang diminta mengikuti banyak kursus oleh orang tuanya. Jadi, sulit sekali (untuk tidur siang),” kata Andreas.

Untuk meminimalisasi utang tidur, Andreas menekankan pada kualitas tidur malam hari. Pada saat persiapan tidur, anak harus mengondisikan otaknya untuk melalui tahapan-tahapan tidur. Tidur dalam, dapat terjadi ketika gelombang otak memasuki slow wave sleep atau fase tidur dalam. Untuk sampai pada tahap ini, gelombang otak Anda harus melalui tahap rapid eye movement (REM), Non-REM. Di mana pada tahap Non-REM dibagi empat tahap. Tahap 1-2 adalah tidur dangkal dan tahap 3-4 adalah tidur dalam. Tahap tidur dalam, adalah tahap di mana orang paling sulit dibangunkan.

Ketika anak terpaksa bangun lebih pagi untuk berangkat ke sekolah, maka waktu tidur dalamnya tidak panjang. Padahal, di tahap inilah hormon pertumbuhan menunjukkan eksistensinya. “Tandanya, anak sulit dibangunkan dan ketika bangun pun masih bengong. Kalau anak berhasil dibangunkan, itu artinya orang tua baru saja memotong proses tumbuh kembangnya,” kata Andreas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: