Apresiasi “Laskar Pelangi”

Assalamualaikum,

Sebahagian besar pembaca mungkin sudah pernah mendengar, membaca novel atau bahkan menonton versi cinema-nya “Laskar Pelangi”. Karya Andrea Hirata dengan ide tema sederhana ini memang luar biasa. Saya sendiri kurang lebih satu tahun yang lalu sudah membaca versi novel nya yang terbagi dalam “Tetralogi”, yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Konon kabarnya November bulan depan akan terbit edisi ke Empat nya, yang memang sudah ditunggu tunggu para penggemarnya (termasuk saya), dengan judul ” Mariamah Karpov”.

Demam “Laskar Pelangi” memang sedang melanda beberapa kota di Indonesia. Di Samarinda, saya perlu datang tiga kali dalam hari yang berbeda, baru bisa mendapatkan tiket masuknya. Itupun setelah meng khusus kan waktu untuk datang pagi pagi bertepatan dengan baru dibukanya mall tempat studio 21 berada. Saya datang pukul 10 pagi, dengan antrian yang sudah lumayan, untuk mendapatkan tiket dengan jam pertunjukkan pukul 16.00 sore.

Beberapa teman mencoba membandingkan demam “Laskar Pelangi” ini dengan demam “Ayat ayat cinta” karya novel kang abik dan disutradarai Hanung beberapa waktu yang lalu. Walaupun saya juga sudah membaca novel AAC jauh sebelum versi layar lebar nya dibuat,jujur saya katakan..saya kurang tertarik untuk menyaksikan versi layar lebarnya tersebut. Saya “terpaksa” melihat versi film nya karena hanya Isteri saya melihat versi DVD nya dirumah. Setelah saya dengan terpaksa ikut menonton AAC, justru saya semakin yakin bahwa ketidak tertarikan saya melihat versi film nya tersebut cukup beralasan. Memang berharap banyak versi film sesuai dengan imajinasi kita ketika membaca versi novel nya merupakan suatu harapan yang berlebihan. Tapi kemampuan kang Abik mengolah emosi pembaca pada novel AAC, kurang mampu diikuti oleh versi cinemanya.

Bagaimana dengan “Laskar Pelangi”…?

Entah kekuatan apa yang membuat saya tertarik untuk melihat versi layar lebarnya. Mungkin salah satunya adalah keinginan saya untuk mengajak anak anak saya turut belajar dari karya ini.

Di detik detik awal ketika cerita film ini mulai digulirkan, jujur saya katakan, saya agak cemas..kalau kalau film ini mengecewakan.Seiring detik demi detik berlalu, kecemasan saya berangsur tergantikan dengan rasa enjoy dan mulai menikmati alur cerita yang disajikan. Secara perlahan dan pasti, rasa kagum saya mulai mendominasi. Sungguh…, kekhawatiran saya kalau versi film nya tidak sesuai dengan harapan saya untuk film “Laskar Pelangi” karya Riri Reza dan Mira Lesmana ini mulai tidak beralasan. Adegan demi adegan yang disajikan menurut rasa dan emosi saya sungguh tepat.

Riri & Mira sudah berhasil memvisualisasikan bahasa tulisannya Andrea Hirata kedalam Cinema yang sangat layak ditonton. Riri & Mira dengan piawai memilih bagian bagian mana pada novel yang layak di eksploitasi. Bahkan kreatifitas yang ditambahkan pada versi film diluar Novel menurut saya juga dapat menjadikan nilai tambah.Meninggalnya pak Arfan si Kepala sekolah, dramatisasi keluarga Lintang yang hanya tinggal Ayahnya (versi novel Ortu Lintang masih lengkap, plus ada bbrp keluarga lain yg tinggal serumah), sampai kreatifitas munculnya tokoh yang diperankan Tora Sudiro, merupakan tambahan tambahan yang memiliki takaran yang pas.

Sangat jarang bagi saya yang bukan penggemar film bioskop ini merasakan kepuasan seperti menyaksikan “Laskar Pelangi” ini. Bahkan anak saya Reza yang kelas V SD ketika saya tanyakan perasaannya setelah melihat film ini berkomentar ; “Wah…ini bukan film yang biasa biasa pah…, tapi film yang luar biasa…”.Saya sempat kaget juga mendengar komentar yang tidak biasa dari anak saya itu. Padahal versi novel nya belum ia tamatkan membacanya.

Ide “Laskar Pelangi” yang dilatarbelakangi kisah nyata Andrea Hirata sendiri merupaka ide yang cukup sederhana. Ia menceritakan pengalaman masa kecilnya ber-sekolah di sebuah SD Muhamadiyah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sekolah tersebut selain sekolah juga layak disebut kandang kambing. Dengan hanya 10 murid, bu Muslimah dan pak Arfan berhasil memperetahankan eksistensi sekolah tersebut hingga meluluskan anak anak yang memiliki cita cita tinggi. Tokoh Ikal (Andrea hirata sendiri), tokoh Lintang dan Mahar merupakan tokoh tokoh sentral yang sanggup diperankan oleh anak anak asli Belitong dengan sangat piawai dan luar biasa. Terlebih bagi anak anak kampung yang belum pernah berpengalaman akting tersebut. Upaya Riri Reza & Mira Lesmana dalam mengarahkan anak anak berbakat tersebut layak diberikan 4 jempol.

Film ini sangat layak ditonton, terutama para guru, orang tua dan tentu saja anak anak.
Salut buat Riri Reza, Mira Lesmana dan Andrea Hirata. Sebuah karya yang Fenomenal.

Ditulis oleh : Aulia Muttaqin, Psikolog pemerhati seni dan perkembangan anak.
Tulisan ini juga dipublikasikan di
http://www.auliamuttaqin.wordpress.com

Satu Balasan ke Apresiasi “Laskar Pelangi”

  1. abikesha mengatakan:

    Disamping nonton juga harus beli bukunya tuh. seru abis ceritanya. Awas jangan beli buku yang bajakan, yang asli hanya di http://WWW.BUKUKITA.COM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: