Terempas Badai Lehman

Lehman Brothers Holdings Inc. bangkrut. Dampaknya belum terbaca.

… Cause the walls started shaking,
The earth was quaking,
My mind was achin’…

Suara Brian Johnson, vokalis AC/DC, melengking dari salah satu meja di kantor pusat Lehman Brothers, Jumat dua pekan lalu. Selarik lirik lagu You Shook Me All Night Long itu seakan menjeritkan penantian panjang karyawan perusahaan investasi terbesar keempat di Amerika Serikat tersebut soal nasib mereka.

Siang itu, sebuah memo meluncur dari lantai 31, tempat Richard S. Fuld Jr., bos Lehman, berkantor. Isinya: masa depan Lehman akan diputuskan Ahad, dua hari kemudian. Setelah itu adalah serangkaian kabar burung dan negosiasi yang gagal.

Jumat sore, tersiar kabar Bain Capital dan Clayton Dubilier & Rice berniat mengambil alih divisi manajemen aset Lehman. Malamnya, giliran Barclays, perusahaan investasi asal Inggris, menyampaikan hasrat membeli Lehman yang tengah sekarat.

Namun, Ahad siang, semua kabar gembira itu satu per satu rontok. Pukul 12.57, Barclays menyatakan mundur. Tiga jam kemudian, giliran Bank of America yang mengurungkan niat membeli Lehman. Fuld semakin terpojok. Upayanya mati-matian mempertahankan Lehman menumbuk jalan buntu. Senin dini hari, pukul 00.30, dia melempar handuk. Lehman menyatakan diri bangkrut dan meminta perlindungan pemerintah.

”Tamat sudah,” kata Christian Meissner, Wakil Kepala Lehman Brothers untuk Eropa dan Timur Tengah. Sebagian karyawan yang marah menuliskan kekesalan terhadap Fuld di karikatur buatan Geoffrey Raymond. Mereka antara lain menulis, ”A symbol of greed and arrogance” dan ”I hope his villa is safe.”

Kebangkrutan Lehman meninggalkan aset US$ 639 miliar (sekitar Rp 6.000 triliun) dengan utang superjumbo, US$ 613 miliar (Rp 5.750 triliun) atau sekitar enam kali anggaran belanja Indonesia. Tamatnya perusahaan berumur 158 tahun dengan beban utang sebesar itu segera menimbulkan badai besar di pasar keuangan dan bursa saham global. Semua indeks di bursa saham dunia anjlok tajam (lihat grafik).

Terlebih, bersamaan dengan tutup bukunya Lehman, raksasa keuangan lain, Merrill Lynch, juga menyerah dan diambil alih Bank of America. Dua hari kemudian, krisis likuiditas memaksa Federal Reserve menyuntikkan US$ 85 miliar ke perusahaan asuransi terbesar di dunia, American International Group (AIG), yang ditukar dengan 80 persen saham. Pelaku bursa panik karena kebangkrutan Lehman bakal merembet ke perusahaan lain. Mereka rame-rame melepas saham dan angkat kaki dari bursa.

Harga minyak bumi juga tersuruk hingga di bawah US$ 91 per barel. Ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa krisis Lehman bakal memangkas pertumbuhan ekonomi dunia dan menekan permintaan terhadap minyak bumi. ”Pelaku pasar khawatir krisis di sektor keuangan akan merembet ke sektor riil,” kata Carsten Fritsch, analis Commerzbank AG. Dia bahkan memperkirakan harga minyak masih akan terus tertekan selama badai Lehman belum berlalu.

Bibit-bibit kematian Lehman Brothers sebenarnya sudah bisa diraba sejak tiga tahun lalu. Pada 2005, Michael Gelband, salah satu anak buah Fuld, telah mengingatkan bosnya bahwa porsi duit Lehman yang dibenamkan di bisnis properti sudah kelewat besar. Namun Fuld justru berpendapat ekspansi Lehman di properti masih agresif.

Selama periode 1997-2006, ekspansi kredit perumahan di Amerika Serikat memang luar biasa akibat suku bunga yang sangat rendah. Namun, ketika suku bunga merangkak naik, setoran pembayaran kredit perumahan mulai seret, dan harga perumahan jatuh, perusahaan yang terkait dengan subprime mortgage ini mulai berguguran.

April lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan total kerugian akibat subprime mortgage sudah US$ 510 miliar. Sebelum Lehman, sudah ada Indy Mac, ANB Financial, Metropolitan Savings Bank, dan 10 bank lain yang lebih dulu ”almarhum”.

Lehman sendiri sebenarnya punya peluang berkelit dari kebangkrutan. Wajar jika sebagian pegawai Lehman jengkel terhadap Fuld. Mereka menilai Fuld melewatkan kesempatan menyelamatkan Lehman dari kebangkrutan. Awal September lalu, Lehman sudah hampir bersepakat dengan Korea Development Bank, yang berniat mengambil alih sebagian sahamnya. ”Lehman dan kami setuju dalam banyak hal, tapi ada jurang yang terlalu jauh dalam harga,” kata bos Korea Bank, Min Euoo Sung, Jumat pekan lalu.

Korea Bank menawar harga US$ 6,4 per saham, sementara Lehman jual mahal dengan meminta US$ 17,5 untuk setiap andilnya. Ketika itu, harga saham Lehman memang berkisar US$ 15 hingga US$ 17. Mo Jae Sung, bos perusahaan investasi Hanwha Investment Trust Management, mengatakan, ”Saya percaya Lehman tidak akan bangkrut jika menerima tawaran Korea Bank di harga berapa pun.”

l l l

Kemungkinan ”demam” ekonomi Amerika Serikat bakal menular ke Asia dan juga Eropa bukannya tertutup sama sekali. Sebab, uang milik bank atau lembaga keuangan di Asia dan Eropa yang nyangkut di Lehman tak bisa dibilang kecil. Dari Aozora Bank, Mizuho Corporate Bank, dan lima bank lain di Jepang saja ada US$ 1,6 miliar. UBS AG, bank asal Swiss, mengaku kehilangan US$ 300 juta.

Beberapa bank besar di Cina sepertinya juga mesti siap menanggung rugi akibat kebangkrutan Lehman. Rabu pekan lalu, China Merchant Bank mengaku memegang surat utang Lehman US$ 70 juta. Duit Industrial and Commercial Bank of China yang nyungsep di Lehman malah lebih besar, yakni US$ 150 juta. Bank of China juga punya piutang ke Lehman beserta anak perusahaannya US$ 128,8 juta.

Angka-angka itu bisa jadi lebih besar lagi karena belum semua konsekuensi kerugian Lehman diungkap. Tapi kalangan analis tidak percaya krisis Lehman akan menular ke Jepang atau Cina. ”Industri keuangan Jepang tak akan banyak terpengaruh. Mereka sudah meng-hedge risiko itu,” kata Reiko Toritani, Direktur Fitch Rating di Tokyo.

Untuk menjaga likuiditas dan mengendalikan nilai tukar, beberapa bank sentral di Asia pun rajin menggelontorkan dolar. Pekan lalu, Bank of Japan menggerojoki pasar hingga US$ 47 miliar. Bank sentral India juga melepas cadangan dolarnya US$ 1,35 miliar.

Badai Lehman juga berembus kencang hingga lantai Bursa Efek Indonesia. Indeks bursa pada Senin kelam pekan lalu langsung terjun bebas dari posisi 1804,06 ke level 1719,25—walaupun setelah itu kembali membal.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku salah meramal dampak krisis kredit perumahan itu terhadap perekonomian Indonesia. Ketika Bear Stearns kolaps Maret lalu, dia memperkirakan dampaknya tak seberapa. Namun, ketika Fannie Mae, Freddie Mac, dan pekan lalu Lehman angkat tangan, dampaknya menjadi lebih serius. Terutama terkait dengan penurunan nilai rupiah dan rontoknya harga komoditas, termasuk minyak bumi.

Akibatnya, beberapa asumsi dalam rencana anggaran belanja negara tahun depan perlu dikoreksi. ”Rencana anggaran itu kan disusun saat ekonomi dunia tidak pasti,” katanya, Selasa pekan lalu. Menurut Sri Mulyani, dampak krisis di Amerika Serikat mungkin masih bakal berlanjut. Nilai tukar rupiah masih akan bergerak liar.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Martin Panggabean, malah mengatakan tak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk meredam gejolak. ”Paling hanya bisa menenangkan investor. Dan itu sudah cukup,” kata Martin.

Yang penting dilakukan adalah menjaga nilai rupiah agar tidak terperosok lebih dalam. Sebab, jika rupiah jatuh terlalu jauh, masalah akan merembet ke mana-mana. Menurut Martin, kurs rupiah sekarang, yang bergerak di kisaran Rp 9.300 hingga Rp 9.400 per dolar, masih aman. ”Bank Indonesia tak perlu ngotot mengembalikan ke Rp 9.200,” ujarnya.

Sampai kapan segala macam kekusutan ini bakal berlangsung, tak ada yang berani memastikan. Selama persoalan kredit perumahan di Amerika Serikat belum benar-benar tuntas, badai semacam Lehman masih mungkin terjadi. Apalagi, kata Martin, rata-rata lembaga keuangan di Amerika Serikat tak terbuka soal berapa duit mereka yang amblas akibat kredit perumahan.

Sapto Pradityo, Eko Nopiansyah (New York Times, Washington Post, Bloomberg)

Korban Subprime Mortgage per 12 Agustus 2008

Kerugian (US$ miliar)
Citigroup 55,1
Merrill Lynch 51,8
UBS 44,2
HSBC 27,4
Wachovia 22,5
Bank of America 21,2
IKB Deutsche 15,3
Washington Mutual 14,8
Morgan Stanley 14,4
JPMorgan Chase 14,3
Deutsche Bank 10,8
Credit Suisse 10,5
Barclays 9,1
Lehman Brothers 8,2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: