Ryan juga hanyalah korban

Sejak ramai diberitakan oleh media tentang pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan, telah banyak komentar yang sebagian besar isinya menghujat Ryan sang pembunuh berantai. Saya memahami reaksi yang diberikan tersebut, terutama oleh keluarga korban. Tentu saja keterkejutan dan kesedihan keluarga korban memicu rasa marah dan geram kepada sipelaku Ryan.

Sebagai seseorang yang mencoba mempelajari Psikologi (ilmu kejiwaan), saya terbiasa melihat suatu perilaku sebagai akibat. Memang kalau ditinjau dari ilmu agama, seseorang yang telah aqil baliq sudah siap bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya. Walaupun demikian setiap perilaku yang muncul menurut hemat saya tidak terlepas dari pengalaman seseorang semenjak ia dilahirkan ke dunia, bahkan semenjak ia dalam kandungan.

Seorang bayi (bahkan calon bayi) tentu saja tidak memiliki kesanggupan untuk memilih perilaku apa yang ia terima dari lingkungannya (dalam hal ini yang paling dominan adalah ke dua orang tua). Kondisi kejiwaan seorang ibu ketika mengandung disinyalir berdampak terhadap kondisi kejiwaan sang janin. Apalagi ketika sang janin telah lahir, perlakuan demi perlakuan yang ia terima (tanpa bisa memilih) tentu saja secara signifikan turut mewarnai kondisi kejiwaannya.

Kembali ke kasus Ryan, dari beberapa interview dan data data yang telah disampaikan media, saya melihat faktor lingkungan keluargan Ryan sangatlah memiliki andil dalam membentuk kejiwaan Ryan yang Psychopath (keadaan mental yang sangat egocentric, sehingga perberbuatannya tidak memikirkan dampaknya terhadap orang lain).

Telah dikucilkannya keluarga Ryan oleh warga sekitar, dapat menunjukkan ketidaknormalan sosial keluarga Ryan. Bahkan disalah satu interview media, terungkap perilaku ibu Ryan yang sangat impulsive (kelabilan emosi yang bereaksi tanpa logis).

Sementara ini saya berkesimpulan bahwa masa kecil Ryan pastilah memiliki banyak traumatis traumatis pribadi & sosial yang menimbulkan “koreng koreng penyakit” di jiwanya. Perilaku homoseksualnya juga salah satu indikasi kegagalan orientasi seksualnya karena kaburnya peran orang tua dalam membentuk self concept Ryan.

Berdasarkan beberapa latarbelakang tersebut, tentulah tidak berlebihan kalau saya menyatakan bahwa Ryan juga hanyalah sebagai korban dari perlakuan perlakuan yang ia terima sejak ia dilahirkan. Perilaku kesadisan membunuhnya hanyalah upaya jiwa bawah sadarnya untuk melampiaskan rasa ketidakadilan yang ia terima.

Pada akhirnya tentu saja semua masalah kita kembalikan pada Sang Maha Adil, kepada Nya lah setiap makhluk kan kembali. Wallahualambissawab.

Aulia Muttaqin Psi

4 Balasan ke Ryan juga hanyalah korban

  1. nheeyaa mengatakan:

    ryan………. ampun!!!! tobat aja de, g takut blsn dr allah tha???

  2. aqil mengatakan:

    Saya setuju dengan anda, bahwa untuk memahami seseorang perlu memahami pula sejarah hidupnya sehingga bisa diperoleh akar permasalahannya yang komprehensif. Kasus-kasus seperti Ryan tidak menutup kemungkinan bisa ditemukan lagi di tengah-tengah masyarakat kita yang sedang mengalami berbagai penyakit psikologis. Oleh karena itu, peranan tokoh masyarakat, ilmuwan, agamawan, dan pemerintah sangat dibutuhkan dalam rangka menyadarkan, membina, dan menjamin masyarakat kita telah bebas dari berbagai penyakit kejiwaan yang akut…

  3. LAPATAU mengatakan:

    Melihat kasus rian saya justru berfikiran bahwa bukan hanya faktor lingkungantermasuk keluarga yang mempengaruhi akan tetapi yang juga berperan penting disini adalah AGAMA” …kurangnya pemahaman agama yang bisa memberika kontrol terhadap perbuatannya.. sehingga membunuh dianggap bukan lagi suatu dosa..
    Selain itu budaya konsumtif dikalangan masyarakat kita juga sangat berpengaruh, sehingga punya keinginan untik memiliki sesuatu benda/ barang tidak mau bekerja keras.. dalam bahasa bugis ” MELO ANDRE TAE ECO””” mau makan tapi gak mau kerja

  4. andyan mengatakan:

    yang jelas ryan bukan satu2nya yang harus disalahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: