Tim Sniper

Hari libur kali ini hanya ku isi dengan bermalas malasan dan bercanda dengan para “mutiara hatiku” seharian dirumah. Bahkan sebahagian besar hari kuisi dengan tidur siang, akibat “membayar” rasa ngantuk menonton semi final piala Champion sejak pukul 3 pagi tadi.

Akibatnya, malam ini aku gak bisa tidur cepat seperti biasa apabila aku terlampau lelah dari kantor. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23 Wita, namun mataku masih segar bugar. Lalu.., tiba tiba saja aku ingin sharing cerita yang kali ini sebuah pengalaman yang menyenangkan.

Menyenangkan..? ya..tentu saja.., kenapa tidak ? emangnya ditengah carut marut demo buruh dan melunjaknya harga bahan bahan pokok seperti ini gak bisa apa kita melakukan hal yang menyenangkan ? Kali ini aku ingin sharing dengan akhir pekan yang indah, lewat acara memancing…, ya..memancing di laut bo..!

Malam itu pukul 22 aku beranjak dari rumah menuju rumah adik yang berada sedikit diluar kota. Kenapa kesitu ? rumah adikku merupakan jalur dimana kami akan menuju pantai pangempang di kecamatan muara badak. Karna kami akan berangkat pukul 3 pagi, maka aku lebih memilih untuk tidur dan menunggu jemputan di situ, ketimbang berangkat dari rumah pukul 2 pagi. Kebayang gak….habis bangun tidur, trus nyetir sendirian…ih…gak la yau..!!

Tepat pukul 3 dini hari kakakku menjemput dengan mobil vitara nya yang sudah dilengkapi dengan fasilitas double gardan. Ya..hal itu sangat perlu mengingat medan yang akan kami lalui penuh tanah basah dan lumpur.

Kami meluncur dengan semangat tempur yang menyala nyala. Itulah seni nya kawan …!! bagi seorang pemancing sejati, bangun pukul 2 pagi, lalu mempersiapkan peralatan memancing, dan kemudian berangkat di pagi buta merupakan hal yang lumrah dan mempunyai kenikmatan tersendiri. Di saat orang lain tidur pulas, kami menyusuri jalan luar kota yang senggang seperti segerombolan sniper yang sedang menjalankan misi penyerangan rahasia ke markas musuh.

Pukul 6 pagi, selepas sholat subuh kami sudah berada di perahu bermesin ukuran panjang10 meter dengan lebar 2 meter. Embun pagi yang segar, burung burung camar yang ceria, diiring bunyi mesin perahu yang khas mengiringi keberangkatan kami ke “medan tempur” sesungguhnya.

Bang Udin si masinis merangkap nakhoda kami dengan sigap mengarahkan laju perahu ke satu titik ditengah laut sana. Dengan dibantu alat GPS yang sederhana, dia sepertinya yakin bahwa arah kami masih dijalur yang benar menuju titik “Rumpon” (sarang ikan yang sengaja dibuat dan di tanam dikedalaman laut).

Kurang lebih 45 menit dari bibir pantai, perahupun labuh jangkar. Kami pun siap dengan senjata pancing masing masing, dan setelah memasang umpan (udang hidup) pancingpun diturunkan pada kedalaman sekitar 40 meter.

Satu menit, dua menit.., tiga menit berlalu, stick kami belum ada tanda tanda bergetar. Di menit ke lima…, tiba tiba stick di tanganku bergetar hebat dan dengan sigap kusentak ke atas agak kesamping….., stick pun tertarik kebawah dengan hebatnya akibat ikan yang berupaya melawan. Aku pun berupaya dengan segenap kemampuanku untuk menggulung tali pancing melalui roll yang ada. Dengan irama yang sudah mulai teratur, ku gulung tali dengan stabil…, dan akhirnya..kira kira dua menit berlalu…muncullah seekor ikan kakap merah yang memiliki berat kira kira tiga kilogram menggelepar di mata pancingku…lalu kemudian langsung ku angkat ke perahu. Kawan kawan lain pun bersorak ramai menyambut “poin pertama” kami itu.

Ikan demi ikan pun secara bergantian berpindah tempat ke dalam peti es kami. Kakap merah mendominasi, lalu ada ikan kaneke yang termasuk spesies langka bagi pemancing, ikan batu yang berat dan memiliki kulit keras seperti besi, dan jenis jenis ikan lain nya.

Kalau sudah begini, lupa rasanya dengan hiruk pikuk masalah hidup yang selalu membayangi. Lupa rasanya kalau kami masih hidup dan tinggal disebuah negara yang belum mampu menstabilkan harga harga bahan pokok rakyatnya, negara yang dipenuhi dengan orang orang petualang politik yang hanya memikirkan perut nya dan kroninya. Di negara yang tidak mampu menyamaratakan pembangunan pada setiap wilayahnya.

Dengan peti es yang penuh sesak dengan berbagai spesies ikan, kamipun beranjak pulang menuju korta Samarinda kembali. Lelah…tapi dengan hati yang riang.

Tapi malam ini, akupun kembali di suguhi berita oleh metro tv dengan berita berita yang membuat kening berkerut. Ada demo buruh yang rusuh, ada perkelahian antar desa di solok SumBar sana. Ah…bagaimano uda ini. Barang barang melunjak naik, bukannya uda bekerja giat agar dapat rezeki banyak untuk makan anak isteri..malah uda berkelahi pula. Mending kumatikan sajo televisi ini, nanti pukul 23.30 aku hidupkan kembali untuk menyaksikan “Kick Andy” yang lebih bermanfaat. Klik…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: