Perlunya banyak guru

Pada tanggal 13/03/08, Agus Rasidi <rasidi@wicaksana.co.id> menulis:

Beberapa waktu lalu saya membaca keluhan salah seorang peserta mailing
list yang mengomentari soal adanya beberapa pemula usaha yang merasa
‘tersesat’ karena mengikuti kiat yang dianjurkan oleh seorang mentor
kewirausahaan. Orang itu mengatakan telah banyak para peminat
wirausaha yang akhirnya terjerembab dan punya hutang bahkan hingga
miliaran rupiah karena mengikuti kiat DODOL yang dianjurkan. DODOL
sendiri pada intinya menganjurkan bahwa berwirausaha itu harus berani
dan modalnya pakai duit orang lain. Prinsip ini, katanya, telah
membuat orang menjadi ‘amat-berani’ untuk berhutang kepada pihak lain
untuk meraih permodalan. Tapi ya itu tadi, AKHIRNYA banyak yang gagal
dan meninggalkan hutang dari yang puluhan juta, ratusan juta, bahkan
ada yang hingga miliaran. Saya tentu ikut prihatin dan sedih bagi yang
kena musibah itu.

Sebagai orang yang bersimpati kepada para peminat wirausaha saya hanya
ingin memberikan sedikit masukan berdasarkan informasi yang saya
peroleh. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam menjalankan usaha
yang memang punya resiko ini, jangan pernah hanya berguru pada satu
mentor. Jangan bertaklid pada satu orang. Kita mesti memperbanyak
sumber informasi, sumber referensi, mendapatkan kiat2 dan
wisdom-wisdom sebanyak mungkin. Dan kemudian mencari mana saja
diantara informasi dan kiat-kiat yang dikemukakan berbagai pengusaha
itu yang paling cocok dan relevan buat bisnis kita dan latarbelakang kita.

Maklum, setiap pengusaha sukses punya pengalaman dan kiat sukses yang
bisa jadi hanya relevan untuk industri dia sendiri, tapi tidak cocok
untuk bidang yang lain. Seorang yang sukses di bisnis pendidikan sebut
saja, belum tentu sukses ketika menjalankan usaha properti, aparel
(fashion), ritel, dealership, atau agro bisnis misalnya. Inilah yang
kadang-kadang kita tak tersadar sehingga ‘asal ikut’ kepada salah satu
pengusaha, padahal pengusaha yang kita ikuti itu hanya expert untuk
satu bidang saja dan banyak gagal di banyak bidang lainnya. Sekali
lagi, kita jangan membabi-buta mencontoh satu pengusaha, tapi ambillah
banyak ‘air’ dari banyak sumber mata air, kemudian dari situ kita
harus menggabungkannya menjadi air terbaik dan segar dalam kolam kita.

Saya punya contoh menarik pengusaha yang menerapkan prinsip itu, yaitu
Pak Harijanto. Kebetulan Pak Harijanto ini juga saya profilkan dan
saya ulas panjang lebar di buku saya (Sudarmadi) yang sudah cetak
ulang di Gramedia, “10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0”.
Pak Harijanto ini pengusaha sukses di bidang sepatu. Karyawannya 9.000
orang. Ia alumni UNS yang dulunya benar-benar orang susah. Beliau ini
juga punya banyak mentor yang selalu ia kagumi dan banyak ia ambil
kiat-kiatnya. Contohnya, kalau ia belajar tentang SDM dan bagaimana
mengelola anak-buah, maka ia banyak belajar dari Pak TP Rachmat. Pak
TP Rachmat ini orang yang membesarkan Astra dan menata sistem di Astra
hingga mampu menjadi perusahaan swasta terbesar di Indonesia yang
sistem manajerialnya diakui paling baik di Indonesia. Entah sudah
berapa puluh penghargaan diperoleh Astra sebagai best company dari
berbagai lembaga. Pak Harijanto banyak belajar dari Pak TP Rachmat
soal bagaimana mengelola orang dan menjadikan anak buah kita prodktif,
loyal dan menampilkan kinerja terbaoknya. Tapi kalau bicara turn
arround manajemen (membenahi perusahaan-perusahaan sakit), Pak
Harijanto berguru pada pengusaha-pengusaha yang lain. Salah satu yang
ia kagumi ialah Robby Djohan, mantan Presdir Bank Mandiri yang
belakangan juga sukses jadi entrepreneur.

Jadi, intinya, kita harus belajar dari sebanyak mungkin orang terbaik
yang ahli di bidangnya masing-masing. Harus diingat bahwa
pengusaha-pengusaha sukses itu, sebagaimana kita, juga punya banyak
keterbatasan dan mereka juga hanya expert untuk bidang dia saja.
Makanya kita sendiri yang harus bijak menyaring berbagai masukan yang
kita terima dan kita sesuaikan (harmonize) yang sesuai dengan konteks
bisnis kita. Jangan pernah membabi-buta mengikuti anjuran atau kiat
satu mentor saja. Jangan asal berani, termasuk berani berhutang.
Bukankah dalam agama hutang itu juga ada pertanggungjawabannya di
akherat? Jadi, semakin banyak sumber informasi dan mentor yang bisa
kita ambil kiat-kiatnya, akan semakin baik bagi kita. Namun juga
dibutuhkan kemampuan kita untuk memfilter mana yang paling cocok buat
kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: