banyak luka menganga
di tanah yang terampas
tak ada tidur nyenyak lagi
anak anak itu,
:mati
*kecamuk di Lebanon,
damailah…!*
agt-2006
banyak luka menganga
di tanah yang terampas
tak ada tidur nyenyak lagi
anak anak itu,
:mati
*kecamuk di Lebanon,
damailah…!*
agt-2006
ELEGI BAK SAMPAH
: muttaqin asykari
*********
kala terik menghujam kepala
seorang anak dengan ingus menjulur mengais ngais
rambut ikal nya yang kusam seakan kuyup
keringat mengucur, meleleh, meluncur, menggantung didaun telinga
tiba tiba tangan dekilnya yang terus mengais, mencari cari..menggenggam
sesuatu
nampak benda dengan sederet huruf yang membentuk kata : “NASIONALISME”
senyum nya yang semula merekah, seketika berubah muram..
huuhh.., ia mengeluh sambil melempar benda itu kembali ke tengah bak sampah
tangannya kembali mengais..mencari cari
ia bongkar porak porandakan isi bak sampah
lalu tangannya kembali mendapatkan sebuah benda
huhh.., kembali ia mengeluh sambil melempar benda tersebut ke tengah bak
sampah
sekilas terlihat tulisan “BHINEKA TUNGGAL IKA”
pantang menyerah si kribo kecil terus mengais..mencari cari
perutnya yang busung meraung raung
namun tetap saja ia temukan benda benda yang tak membuatnya kenyang
bergiliran ia lempar kembali ke bak sampah ;
“KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB”…..”PERSATUAN INDONESIA”…”KEADILAN
SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA”
tiba tiba ; “…bruu..kk..”
tiang bendera rubuh
menghantam kepala si anak keling
kini tubuhnya terselimuti merah & putih
nafas nya satu satu
matanya berkedap kedip
darah mengucur membasahi rambut ikalnya
tangannya menggapai gapai
ketika suatu benda tertangkap matanya
ooh..itulah yang kucari
lalu nafasnya putus
disaksikan sebuah benda yang tergencet bak sampah
bertuliskan : “ADIL”
** “maret-2006———-
dari samarinda,mengetuk nurani”
=========================
kilauan mutiara di bening matamu
tersihir aku
putaran bumi terhenti
ada ribuan balon berbentuk hati, bertebaran berkelebat dari dadaku
tersekat lidahku, kelu
hanya balon balon itu
bergerak lamban, namun pasti
berdesakan untuk hinggap dipelukanmu
terbuai disana, lalu meletup
namun takkan pernah sirna
karna akan terus terbentuk balon baru dari urat urat hatiku
untukmu
*Syawal, menjelang purnama (hanya untuk isteriku : Linda)
kala itu, mei 98
negeri kita caruk maruk
anakku, lelakiku
engkau hadir menebar cinta
lelaki mungil ku
dengan tangis mu yang membahana
membuat hatiku tersungkur, bersimbah asa
lalu mengalir kesegenap jiwaku
ketika tumbuhmu mencumbu waktu
kita lewati mentari demi mentari
saat malam mu bertandang
kuhantar kantukmu dengan dongeng ku
ku pahat Do’a seiiring lelapmu ,
…Ya Robbi ku, syukur ku berlimpah
atas karunia Mu yang tak terbalas ini
ia lelaki mungilku, yang selalu melontar tanya tentang alam Mu
lindungilah ia selalu ,
jauhkan lah dari segala mara bahaya
tuntunlah hambamu agar mampu menghantar nya menjadi lelaki yang sholeh
berilah hamba kesempatan dan kemampuan untuk menuntun nya meraih cita
** anakku, sajak ini kuhadirkan di Mei yang berbeda, sembilan tahun
kemudian
ketika sudah ada diskusi tentang piala champion di antara kita**
Mei’ 2007
sahabatmu, ayahmu,
muttaqin asykari
——buat abang Reza, yang sedang terbaring sakit,
Selamat ulang tahun, semoga cepat sembuh.——
Tuhann dosaku menggunung tinggi,
Tapi Rahmat-Mu.. Melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanya setitik, Nikmat-Mu di bumi
Tuhan, walau taubat sering kuukir.
Namu pengampunan-Mu ‘tak pernah bertepi..
Bila selangkah kurapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku
Lelaki renta itu bernama “PAPUA”
: a. muttaqin
rambutnya yang keriting kusam menguning
badannya yang legam tonjolkan tulang
ia duduk memeluk lutut
diatas bukit sintani dihamparan batu menghitam
memandang kebawah dengan mata cekung nya
melihat kesibukan pekerja dengan mesin penggali
dibawah sana mereka kenyang
diatas sini sang lelaki kelaparan
dibawah sana mereka terbalut jeans
diatas sini hanyalah koteka bertelanjang dada
kedap kedip mata sang lelaki mengusir lalat yang hinggap
ketika gerobak emas berlalu tinggalkan debu
sejak empat puluh tahun yang lalu
tetap saja kereta emas itu hanya berlalu
sudahlah lelaki renta,emas itu bukan untukmu
tetapi untuk tuan tuan dibenua sana
sedikit untuk penguasa penguasa negrimu
sedikit lagi untuk tentara tentara penjaga itu
hormati saja benderamu
nyanyikan saja lagu kebangsaanmu
tetap saja emas itu bukan untukmu
lalu,lelaki itupun menggumam lirih ;
“..indonesia tanah airku..tanah tumpah darahku. disanalah aku berdiri,jadi
pandu ibuku.., indonesia..kebangsaanku..bangsa dan tanah airku…marilah
kita berseru..indonesia bersatu…”
lalu, lelaki itupun mati.
Maret, 2006
dari borneo, untuk papua
KIDUNG SENJA MAHAKAM
* a. muttaqin
=============
aroma basah menguap menyapa indra ciumku
saat rintik pasrah dibonceng semilir bayu
bayang dedaunan menari dipantulan jingga
teriring nada dari perahu ketinting yang pulang
hela nafas panjangmu sejenak menyibak hening
namun tak jua mampu menyeret gumpalan gundah
kita terjepit disela cita dan cinta
yang akan menuntut hamparan rindu
entah sudah seberapa sering kuresapi bening hitam bola matamu, yang kali ini
terbalut basah
namun selalu saja aku terperangkap dalam buaian yang melenakan
sejenak sanggup kusisihkan galauku akan perpisahan
untuk terbenam masuk dalam daya magis tatapanmu
tak jua kata mampu kuungkapkan
tak jua janji mampu kuikrarkan
yang kutau kita hanyalah milik sang waktu
di-lorongnya-lah kegelapan hari esok kan tersibak
jingga kini tlah temaram
berangsur anak mahakam naik ketepian
sisakan canda pada tali tali sampan
merangkul erat tiang tiang jembatan
butiran beningmu tlah mengering
tanpa sanggup hadirkan pasti
erat genggammu iringi langkah
tinggalkan kisah disepenggalah senja
—– Samarinda, ujung penghujan 2006
setelah delapanbelas musim berlalu —–