Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

11 April 2008

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?
Oleh : Admin (di copy dari Milis Iqra)

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah
universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan
pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan
semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi. Baca entri selengkapnya »


Menjemput Rezeki

9 April 2008

Menjemput Rezeki

Setengah jam menjelang adzan Dzuhur, dari kejauhan mata saya menangkap
sosok tua dengan pikulan yang membebani pundaknya. Dari bentuk yang
dipikulnya, saya hapal betul apa yang dijajakannya, penganan langka
yang menjadi kegemaran saya di masa kecil. Segera saya hampiri dan
benarlah, yang dijajakannya adalah kue rangi, terbuat dari sagu dan
kelapa yang setelah dimasak dibumbui gula merah yang dikentalkan.
Nikmat, pasti. Baca entri selengkapnya »


Mimpi Republik Banana

8 April 2008

Rakyat Merdeka, Selasa, 11 April 2006

Kolom Kwik Kian Gie
Mimpi Republik Banana

AKU bermimpi menjadi penduduk dari negara kepulauan yang alamnya indah, iklimnya nyaman dan kaya mineral. Kehidupan rakyatnya sangat santai. Namanya Republik Banana. Dalam mimpi itu, aku mendengarkan percakapan dua orang elit Republik Banana, yang satu namanya Djadjang (Dj) dan lainnya Mamad (M). Baca entri selengkapnya »


Makhluk langka di jagad ini

7 April 2008

Presiden Iran Ahmedi Najad, Makhluk langka di Bumi abad milenium
——————————————————————————–

Tuhan mencintai siapa yang merendah dalam kehidupan pribadinya!

TV Fox (AS) menanyakan pada Presiden Iran Ahmedi Najad; “Saat anda melihat
di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?”

Jawabnya: “Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:”Ingat,
kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung
jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran .” Baca entri selengkapnya »


Manajemen Muhammad SAW

6 April 2008

Manajemen Muhammad SAW

Erwin FS
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta
Pada 12 Rabiul Awal telah ditakdirkan menjadi hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, seorang Nabi penutup dan pemimpin yang namanya paling sering diucapkan oleh umat manusia setiap saat hingga kini. Kelahirannya di tengah alam yang gersang dan jahiliyah memberikan arti baru kehidupan manusia dan memunculkan kembali fitrah manusia. Baca entri selengkapnya »


Sebab Aku Laki Laki

4 April 2008

Sebab Aku Laki Laki

HATI SEORANG AYAH Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah , mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. Baca entri selengkapnya »


Kisruh di Adam Air

19 Maret 2008

Perseteruan antara Bhakti Investama dengan Keluarga Adam Suherman, rupanya sudah berlangsung jauh sebelum kecelakaan pesawat Adam Air di Batam. Salah satu pemicunya adalah kepemilikan saham di antara kedua pihak yang porsinya sama besar. Lalu siapa akan menelan apa?

Oleh Rusdi Mathari
KISRUH manajemen Adam Air semakin keruh. PT Bhakti Investama bukan berencana akan menarik keikutsertaan dalam kepemilikan maskapai itu tapi juga mulai membeberkan kebobrokan lain dari Adam Air. Salah satunya tentang penyelewengan dana Rp 2,1 triliun oleh manajemen Adam Air. Penyelewengan itu kata Hotman Paris Hutapea, pengacara yang dibayar oleh PT Global Trasport Services dan PT Bright Star Perkasa, berpotensi merugikan keuangan negara karena sebesar Rp 50 miliar dari dana itu diperoleh Adam Air dari kredit BRI. Global Transport dan Bright Star adalah anak perusahaan Bhakti.
Kekisruhan yang terjadi “mendadak” itu merupakan buntut dari kecelakaan pesawat Adam Air di Bandara Hang Nadim, Batam, 10 Maret 2008. Adam Air lantas disebut-sebut sebagai maskapai yang tidak mengindahkan keselamatan penumpang dan penerbangan meskipun kasus kecelakaan pesawat yang dialami oleh Adam Air tidak seburuk yang dibayangkan oleh banyak orang. Dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi diperoleh data, selama periode lima tahun hingga Januari 2007 telah terjadi 143 kali kecelakaan pesawat di Indonesia. Rinciannya adalah Garuda Indonesia (14 kali), Mandala Airlines dan Merpati Nusantara Airlines (masing-masing 11 kali), Trigana Air Service dan Lion Air (masing-masing 9 kali), Pelita Air Service dan Dirgantara Air Service ( masing-masing 8 kali) (Lihat “Garuda Paling Banyak Alami Kecelakaan,” TempoInteraktif, 18 Januari 2007).
Nama Adam Air di persepsi buruk, ketika satu pesawat yang dioperasikan oleh maskapai itu hilang pada 1 Januari 2007 di sekitar perairan Teluk Majene, Sulawesi Selatan. Pesawat dengan nomor penerbangan KI 574 itu hilang di dalam perjalanan dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Bandara Sam Ratulangi Manado. Seluruh penumpang dan awak pesawat, yang kesemuanya berjumlah 102 orang dinyatakan tewas dan penyelidikan atas kasusnya hingga kini belum terungkap publik. Adam Air, sejak itu identik dengan maskapai yang mengabaikan keselamatan penerbangan dan keselamatan penumpang meskipun tiketnya tetap laris diserbu penumpang. Adam Air bahkan terpilih menjadi maskapai penerbangan swasta nasional untuk Official Carrier PON XVII-2008 di Kalimantan Timur dengan rencana membagi 1.200 tiket bagi PB PON, atlet, pelatih dan offisial dari sejumlah daerah selama berlangsungnya PON.
Namun Adam Air tampaknya memang sedang sial. Citranya yang telanjur buruk sejak peristiwa kecelakaan 1 Januari 2007, semakin memburuk setelah satu pesawatnya terpental (bouncing) hingga dua kali ketika hendak mendarat di Bandara Hang Nadim, pada 10 Maret 2008. Peristiwa di Batam itu, lalu seolah menyeret Adam Air ke pusaran masalah. Puncaknya adalah rencana penarikan dukungan Bhakti di kepemilikan saham di Adam Air. Alasan Bhakti hendak hengkang dari “kockpit” Adam Air karena maskapai itu dianggap tidak transparan dan mengabaikan keselamatan penumpang.
Akibat keputusan dari manajemen Bhakti, mudah ditebak, Adam Air segera terancam oleng karena separuh dari kekuatan modalnya sudah patah— melalui Global Transport dan Bright Star, Bhakti menguasai 50 persen saham PT Adam Skyconnection Airlines. Puncaknya adalah keputusan manajemen Adam Air yang memutuskan untuk tidak beroperasi sejak Senin 17 Maret 2008. Namun manuver Bhakti tak berhenti sampai di sana. Perusahaan yang menguasai PT Bimantara Citra itu, lantas membeberkan penyelewengan keuangan di tubuh Adam Air meskipun hal itu dibantah oleh Adam Adhitya Suherman, Direkttur Utama Adam Air.
Menurut Adam, selama ini pihaknya cukup transparan dalam mengelola keuangan perusahaan. Antara lain dengan menempatkan Gustiono Kustianto sebagai perwakilan Bhakti untuk duduk di di kursi Wakil Direktur Utama dan Direktur Keuangan. Maka kata Adam, “Tolong tanyakan pada direktur keuangan saya, ke mana uang itu hilang.” (Lihat “Adam Air Bantah Selewengkan Dana Rp 2,1 Triliun,” antara.co.id, 17 Maret 2008)
Bhakti adalah perusahaan yang terkenal karena mengakuisisi saham PT Bimantara Citra. Nama yang disebut terakhir adalah perusahaan milik Bambang Trihatmojo, anak mendiang Suharto, Presiden RI kedua. Saham Bhakti antara lain dimiliki oleh Hary Tanoesudibjo dan Bambang duduk di jajaran komisaris. Bisnis yang dikembangkan oleh Bimantara antara lain bisnis media antara lain RCTI, TPI, Global TV, koran Seputar Indonesia, situs Okezone, dan kabarnya majalah Trust. Raksasa bisnis ini juga mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui PT Mobile-8 Telecom (Telecom).
Pada 12 April 2007 atau sekitar 3 bulan setelah peristiwa kecelakaan Adam Air pada 1 Januari 2007, Bhakti kemudian mengakuisisi 50 persen saham Adam Air melalui Global Transport dan Bright Star. Penandatanganan perjanjian transaksi akuisisi saham dilakukan oleh Dirut PT Global Transport Services Hartono Tanoesoedibjo dengan Dirut Adam Air Adam Adhitya Suherman di Menara Kebon Sirih, Jakarta. Hartono adalah saudara dari Hary Tanoesudibjo. “Kami telah mencapai kesepakatan dengan pendiri Adam Air, 50 persen saham yang kami investasikan merupakan saham baru yang diterbitkan oleh AdamAir, sehingga dananya akan masuk ke Adam Air,” kata Hary Djaja, Direktur Utama Bhakti (Lihat “Bhakti Resmi Akuisisi 50% Saham Adam Air,” adamair-indonesia.blogspot.com, 15 April 2007)
Jika alasan Bhakti akan menarik diri dari kepemilikan Adam Air adalah karena faktor tidak adanya transparansi dan pengabaian keselamatan penumpang oleh Adam Air, maka pertanyaannya sekarang, mengapa Bhakti justru mengakuisisi Adam Air pada saat maskapai itu baru saja dirundung persoalan besar: kehilangan pesawat dan menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat pada 1 Januari 2007? Tidakkah peristiwa itu, pada waktu itu, lebih dahsyat menyita perhatian publik dan karena itu patut dicurigai Adam Air memang tidak mengindahkan keselamatan penumpang, dibanding misalnya insiden di Batam, sepuluh hari lalu? Hal yang juga tidak kalah menarik adalah langkah dari orang-orang Bhakti yang kemudian juga membeberkan “kejelekan” Adam Air, sementara di sisi lain, orang-orang Bhakti juga duduk di kursi manajemen Adam Air.
Menurut Bisnis Indonesia, perseteruan antara pihak Bhakti dengan Keluarga Adam Suherman terjadi jauh sebelum insiden tergelincirnya pesawat Boeing 737-400 Adam Air di Bandara Hang Nadim. Perseteruan itu antara lain dipicu oleh akuisisi saham Adam Air oleh Bhakti yang ternyata membagi porsi kepemilikan saham Adam Air sama besar antara Keluarga Suherman dan pihak Bhakti yaitu 50:50. Koran itu meniupkan rumor, porsi kepemilikan saham yang berimbang itulah yang menyulitkan kedua belah pihak dalam mengambil keputusan. Contohnya, pada saat para lessorpesawat Adam Air meminta kepastian perpanjangan masa sewa pesawat, kedua belah pihak tak mencapai kata sepakat hingga krisis keuangan menimpa Adam Air (Lihat “Nasib AdamAir setelah Ditinggal Bhakti,” bisnis.com, 17 Maret 2008).
Rumor dari Bisnis Indonesia itu, bisa saja sekadar gosip tapi logikanya, sangat mustahil ada dua matahari di muka bumi. Dengan logika semacam itu, salah satu pihak dari pemilik saham di Adam Air yang porsinya sama besar itu, kemungkinan besar sedang memainkan jurus untuk menguasai maskapai itu dengan menumpang isu kecelakaan pesawat Adam Air –meskipun kemungkinan untuk benar-benar meninggalkan Adam Air dari salah satu pihak, juga sama besarnya, tentu saja. Maka siapa akan menelan apa, dalam waktu yang tak lama, pasti akan ketahuan oleh publik. Satu hal yang sering dilupakan dari peperangan bisnis semacam itu, yaitu kesadaran untuk menegakkan etika bisnis dan memperjuangkan nasib karyawan.


Perlunya banyak guru

14 Maret 2008

Pada tanggal 13/03/08, Agus Rasidi <rasidi@wicaksana.co.id> menulis:

Beberapa waktu lalu saya membaca keluhan salah seorang peserta mailing
list yang mengomentari soal adanya beberapa pemula usaha yang merasa
‘tersesat’ karena mengikuti kiat yang dianjurkan oleh seorang mentor
kewirausahaan. Orang itu mengatakan telah banyak para peminat
wirausaha yang akhirnya terjerembab dan punya hutang bahkan hingga
miliaran rupiah karena mengikuti kiat DODOL yang dianjurkan. DODOL
sendiri pada intinya menganjurkan bahwa berwirausaha itu harus berani
dan modalnya pakai duit orang lain. Prinsip ini, katanya, telah
membuat orang menjadi ‘amat-berani’ untuk berhutang kepada pihak lain
untuk meraih permodalan. Tapi ya itu tadi, AKHIRNYA banyak yang gagal
dan meninggalkan hutang dari yang puluhan juta, ratusan juta, bahkan
ada yang hingga miliaran. Saya tentu ikut prihatin dan sedih bagi yang
kena musibah itu.

Sebagai orang yang bersimpati kepada para peminat wirausaha saya hanya
ingin memberikan sedikit masukan berdasarkan informasi yang saya
peroleh. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam menjalankan usaha
yang memang punya resiko ini, jangan pernah hanya berguru pada satu
mentor. Jangan bertaklid pada satu orang. Kita mesti memperbanyak
sumber informasi, sumber referensi, mendapatkan kiat2 dan
wisdom-wisdom sebanyak mungkin. Dan kemudian mencari mana saja
diantara informasi dan kiat-kiat yang dikemukakan berbagai pengusaha
itu yang paling cocok dan relevan buat bisnis kita dan latarbelakang kita.

Maklum, setiap pengusaha sukses punya pengalaman dan kiat sukses yang
bisa jadi hanya relevan untuk industri dia sendiri, tapi tidak cocok
untuk bidang yang lain. Seorang yang sukses di bisnis pendidikan sebut
saja, belum tentu sukses ketika menjalankan usaha properti, aparel
(fashion), ritel, dealership, atau agro bisnis misalnya. Inilah yang
kadang-kadang kita tak tersadar sehingga ‘asal ikut’ kepada salah satu
pengusaha, padahal pengusaha yang kita ikuti itu hanya expert untuk
satu bidang saja dan banyak gagal di banyak bidang lainnya. Sekali
lagi, kita jangan membabi-buta mencontoh satu pengusaha, tapi ambillah
banyak ‘air’ dari banyak sumber mata air, kemudian dari situ kita
harus menggabungkannya menjadi air terbaik dan segar dalam kolam kita.

Saya punya contoh menarik pengusaha yang menerapkan prinsip itu, yaitu
Pak Harijanto. Kebetulan Pak Harijanto ini juga saya profilkan dan
saya ulas panjang lebar di buku saya (Sudarmadi) yang sudah cetak
ulang di Gramedia, “10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0″.
Pak Harijanto ini pengusaha sukses di bidang sepatu. Karyawannya 9.000
orang. Ia alumni UNS yang dulunya benar-benar orang susah. Beliau ini
juga punya banyak mentor yang selalu ia kagumi dan banyak ia ambil
kiat-kiatnya. Contohnya, kalau ia belajar tentang SDM dan bagaimana
mengelola anak-buah, maka ia banyak belajar dari Pak TP Rachmat. Pak
TP Rachmat ini orang yang membesarkan Astra dan menata sistem di Astra
hingga mampu menjadi perusahaan swasta terbesar di Indonesia yang
sistem manajerialnya diakui paling baik di Indonesia. Entah sudah
berapa puluh penghargaan diperoleh Astra sebagai best company dari
berbagai lembaga. Pak Harijanto banyak belajar dari Pak TP Rachmat
soal bagaimana mengelola orang dan menjadikan anak buah kita prodktif,
loyal dan menampilkan kinerja terbaoknya. Tapi kalau bicara turn
arround manajemen (membenahi perusahaan-perusahaan sakit), Pak
Harijanto berguru pada pengusaha-pengusaha yang lain. Salah satu yang
ia kagumi ialah Robby Djohan, mantan Presdir Bank Mandiri yang
belakangan juga sukses jadi entrepreneur.

Jadi, intinya, kita harus belajar dari sebanyak mungkin orang terbaik
yang ahli di bidangnya masing-masing. Harus diingat bahwa
pengusaha-pengusaha sukses itu, sebagaimana kita, juga punya banyak
keterbatasan dan mereka juga hanya expert untuk bidang dia saja.
Makanya kita sendiri yang harus bijak menyaring berbagai masukan yang
kita terima dan kita sesuaikan (harmonize) yang sesuai dengan konteks
bisnis kita. Jangan pernah membabi-buta mengikuti anjuran atau kiat
satu mentor saja. Jangan asal berani, termasuk berani berhutang.
Bukankah dalam agama hutang itu juga ada pertanggungjawabannya di
akherat? Jadi, semakin banyak sumber informasi dan mentor yang bisa
kita ambil kiat-kiatnya, akan semakin baik bagi kita. Namun juga
dibutuhkan kemampuan kita untuk memfilter mana yang paling cocok buat
kita.


Mulia-nya Posisimu sayang

10 Maret 2008

“Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!”

Written by Ummu Raihanah

“Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!” dengan malu-malu dan tersipu
seorang akhwat menjawab pertanyaan kawannya tentang aktifitas apa yang
di gelutinya sekarang. Sedangkan di kalangan ikhwan yang pernah
penulis temui, ada diantara mereka yang malu untuk menjawab profesi
istrinya bila istrinya bukan seorang dokter, insinyur, guru, atau
profesi terhormat lainnya. Maka jawaban yang muncul adalah :” biasa di
rumah saja, mengurus anak-anak, Cuma ibu RT aja,… ga ada aktifitas
lainnya!” Duh,sebegitu hinakah profesi ini ?
Padahal ketika penulis berinteraksi dengan wanita barat sewaktu di
negeri Kanguru diantara mereka ada yang menjawab, “Wow, profesi yang
hebat tidak semua wanita mau menekuninya, I can’t do that!”
Ya,..karena mereka melihat betapa sulitnya untuk menjadi istri
sekaligus ibu yang baik bagi anak-anak. Saking beratnya, mereka
memilih memasukkan anak-anak mereka di child care. Anda akan melihat
dengan mata kepala sendiri panjangnya daftar antrian para orangtua
yang ingin memasukkan anak-anak mereka ke tempat penitipan anak
(childcare). Anda harus menunggu minimal selama 6 bulan sebelum nama
anak anda di panggil*. Rata-rata mereka memilih bekerja daripada
mengasuh anak dirumah. Suatu fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa
para ibu dikalangan wanita barat memilih “melarikan diri” dari tugas
dan tanggungjawabnya sebagai ibu dengan bekerja. Mereka bilang kepada
penulis lebih mudah bekerja daripada tinggal dirumah mengasuh
anak.Mengasuh anak membuatku stress! Itu yang penulis dengar. Bukankah
itu suatu bukti bahwa mengurus anak-anak adalah suatu pekerjaan dan
tanggung jawab yang berat? Lalu dimana penghargaan masyarakat kita
terhadap ibu? Terlebih suami?
Itu baru dilihat dari satu sisi saja,…tidakkah anda melihat bahwa
seorang istri atau ibu dirumah tidak pernah berhenti dari
tugasnya?.Jika para suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara
8-10 jam misalnya maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai
jam kerja yang lebih panjang yaitu selama 24 jam. Ia harus standby
(selalu siap) kapan saja diperlukan. Bila diantara anggota keluarga
ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu? Bukankan
seorang ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster)
bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha
meringankan beban sakit “sang pasien” dirumah sebelum di bawa kerumah
sakit (yang sebenarnya) apabila ternyata sang ibu tidak sanggup
mengobatinya. Pernahkah anda memikirkan berapa jumlah uang yang harus
anda keluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi
dirumah anda?
Bukankah seorang ibu juga seorang psikolog? Karena tentu anda melihat
sendiri kenyataan ketika datang anak-anak mengeluh dan mengadu atas
kesusahan atau penderitaan yang mereka alami maka sang ibu berusaha
mencari jalan keluar dengan saran, nasehat dan belaian kasih sayang.
Begitupula suami ketika merasa resah dan gelisah bukankah istri
menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu suami
meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang
dihadapinya. Penulis lihat sendiri betapa mahalnya bayaran seorang
psikolog di Australia ada diantara mereka yang harus membayar $100
perjam dan tentu saja tidak ada jaminan mereka bisa membantu
menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi.
Bukankan seorang istri/ibu dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah
anda membayangkan wahai para suami, anda memiliki juru masak dirumah
yang selalu siap anda perintah kapan saja anda mau. Anda memiliki juru
masak pribadi dirumah, ketika anda pulang ke rumah maka hidangan lezat
tersedia bagimu dan juga untuk anak-anakmu. Pernahkah anda
membayangkan berapa juta uang yang harus anda keluarkan untuk
mengundang juru masak pribadi datang kerumah anda?
Masih banyak sisi lain yang tidak mungkin penulis sebutkan satu
persatu. Anda tentu pernah membaca syair Arab yang sangat terkenal
yang berbunyi :” Al-Ummu madrasatun idza a’dadtaha ‘adadta sya’ban
tayyibul ‘araq” maknanya “seorang ibu adalah sebuah sekolah. Jika
engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah
mempersiapkan sebuah generasi yang unggul”. Ditangan ibulah masa depan
generasi sebuah bangsa.Karena itulah islam sangat menghormati dan
menghargai profesi ini. Kenyataan yang tidak bisa di pungkiri bahwa
kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan sang ayah.** Karena
Islam melihat tanggung jawab yang berat yang di emban seorang ibu, itu
menandakan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang
mulia dan sangat terhormat. Lalu mengapa kita masih malu ya ukhti??
Ayo,..angkatlah wajahmu dan katakan dengan bangga bahwa aku adalah
seorang “ibu rumah tangga!!” sebuah profesi yang sangat berat dan
tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untukmu. Al-jaza’u
min jinsil amal artinya balasan tergantung dari amal/perbuatan yang ia
lakukan.Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba
maka pahala yang akan didapatinya pun semakin besar. Wallahu a’lam
bisshawwab.

Footnote:
*Tak jarang para orang tua ada yang harus menunggu selama 1 tahun
karena penuh dan banyaknya antrian (waiting list) dari tahun
sebelumnya.
**Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan, ada seorang
yang datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam seraya
bertanya :”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya
pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab: Ibumu! Orang itu bertanya
lagi: “Lalu siapa?” Ibumu! Jawab beliau. Lalu siapa lagi? Tanya orang
itu, Beliaupun menjawab: Ibumu!, Selanjutnya bertanya:”Lalu siapa?”
Beliau menjawab: Ayahmu” (Mutaffaqun Alaih).
Imam Nawawi mengatakan; Hadits tersebut memerintahkan agar senantiasa
berbuat baik kepada kaum kerabat dan yang paling berhak mendapatkannya
diantara mereka adalah ibu, lalu ayah dan selanjutnya orang-orang
terdekat.
Didahulukannya ibu dari mereka itu karena banyaknya pengorbanan,
pengabdian, kasih sayang yang telah diberikannya. Dan, karena seorang
ibu telah mengandung, menyusui, mendidik, dan tugas lainnya” tutur
para ulama (lihat Al-Jami’ Fi fiqh Nisa bab birru walidain Syaikh
Kamil ‘Uwaidah)
Muraja’ah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc