Apakah anda seorang Psikopat ?

4 Agustus 2008

Dear Bloger,

Pastinya kalian semua mengikuti kisah pembunuh berantai “Ryan dari Jombang” kan ? banyak media dan para ahli yang mengkaitkan tersangka dengan penyimpangan kepribadian “Psychopath”.

Secara sederhana Psikopat dapat didefinisikan sebagai penyimpangan kepribadian dimana sipenderita mengalami kegagalan sosial karena lebih Ego centric (central perilakunya adalah kepentingan dirinya), sehingga ybs tidak peduli terhadap dampak perilakunya terhadap orang lain. Membunuh manusia bagi seorang penderita psikopat sama dengan kita yg normal membunuh seekor nyamuk yg sedang menggigit di lengan kita. Tanpa rasa bersalah.

Berikut ada test yang sederhana. Walaupun cukup sederhana tes tersebut dapat mengungkap, apakah anda memiliki potensi sbg Psikopat ?

Bagi yg ingin mencoba test ini silahkan mengirimkan jawaban ke aulia.muttaqin@yahoo.com dan saya akan mengirimkan hasil tes langsung ke e-mail anda. Sehingga kerahasiaan anda tetap terjaga.

Berikut tes sederhananya :

- Suatu hari di pemakaman, ada seorang gadis yang menangisi jasad ibunya yang sedang diturunkan ke liang lahat (kita sebut saja nama gadis tersebut “melati”).

- Sambil menangis “melati” juga sedang terkesima oleh kehadiran seorang pemuda yang tak dikenalnya. Pemuda tersebut sangat cocok dengan kriteria phisik yang selama ini di idam idamkan “melati”.

- Berhari hari setelah itu “melati” selalu merasa penasaran terhadap pemuda tersebut.

- Tepat 10 hari setelah acara pemakaman ibu “melati”, kakak perempuan “melati” ditemukan tewas bersimbah darah di kamar tidurnya dengan banyak bekas tusukan belati di tubuhnya. Kesimpulan mudah, kakak “melati” tewas dibunuh.

Masalah nya ……….,

1. Siapa pembunuh kakak nya “melati”..?

2. Apa motivasinya ?

Saya tunggu jawaban anda…!

Rgds,

Aulia Muttaqin


Ryan juga hanyalah korban

4 Agustus 2008

Sejak ramai diberitakan oleh media tentang pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan, telah banyak komentar yang sebagian besar isinya menghujat Ryan sang pembunuh berantai. Saya memahami reaksi yang diberikan tersebut, terutama oleh keluarga korban. Tentu saja keterkejutan dan kesedihan keluarga korban memicu rasa marah dan geram kepada sipelaku Ryan.

Sebagai seseorang yang mencoba mempelajari Psikologi (ilmu kejiwaan), saya terbiasa melihat suatu perilaku sebagai akibat. Memang kalau ditinjau dari ilmu agama, seseorang yang telah aqil baliq sudah siap bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya. Walaupun demikian setiap perilaku yang muncul menurut hemat saya tidak terlepas dari pengalaman seseorang semenjak ia dilahirkan ke dunia, bahkan semenjak ia dalam kandungan.

Seorang bayi (bahkan calon bayi) tentu saja tidak memiliki kesanggupan untuk memilih perilaku apa yang ia terima dari lingkungannya (dalam hal ini yang paling dominan adalah ke dua orang tua). Kondisi kejiwaan seorang ibu ketika mengandung disinyalir berdampak terhadap kondisi kejiwaan sang janin. Apalagi ketika sang janin telah lahir, perlakuan demi perlakuan yang ia terima (tanpa bisa memilih) tentu saja secara signifikan turut mewarnai kondisi kejiwaannya.

Kembali ke kasus Ryan, dari beberapa interview dan data data yang telah disampaikan media, saya melihat faktor lingkungan keluargan Ryan sangatlah memiliki andil dalam membentuk kejiwaan Ryan yang Psychopath (keadaan mental yang sangat egocentric, sehingga perberbuatannya tidak memikirkan dampaknya terhadap orang lain).

Telah dikucilkannya keluarga Ryan oleh warga sekitar, dapat menunjukkan ketidaknormalan sosial keluarga Ryan. Bahkan disalah satu interview media, terungkap perilaku ibu Ryan yang sangat impulsive (kelabilan emosi yang bereaksi tanpa logis).

Sementara ini saya berkesimpulan bahwa masa kecil Ryan pastilah memiliki banyak traumatis traumatis pribadi & sosial yang menimbulkan “koreng koreng penyakit” di jiwanya. Perilaku homoseksualnya juga salah satu indikasi kegagalan orientasi seksualnya karena kaburnya peran orang tua dalam membentuk self concept Ryan.

Berdasarkan beberapa latarbelakang tersebut, tentulah tidak berlebihan kalau saya menyatakan bahwa Ryan juga hanyalah sebagai korban dari perlakuan perlakuan yang ia terima sejak ia dilahirkan. Perilaku kesadisan membunuhnya hanyalah upaya jiwa bawah sadarnya untuk melampiaskan rasa ketidakadilan yang ia terima.

Pada akhirnya tentu saja semua masalah kita kembalikan pada Sang Maha Adil, kepada Nya lah setiap makhluk kan kembali. Wallahualambissawab.

Aulia Muttaqin Psi