Mulia-nya Posisimu sayang

10 Maret 2008

“Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!”

Written by Ummu Raihanah

“Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!” dengan malu-malu dan tersipu
seorang akhwat menjawab pertanyaan kawannya tentang aktifitas apa yang
di gelutinya sekarang. Sedangkan di kalangan ikhwan yang pernah
penulis temui, ada diantara mereka yang malu untuk menjawab profesi
istrinya bila istrinya bukan seorang dokter, insinyur, guru, atau
profesi terhormat lainnya. Maka jawaban yang muncul adalah :” biasa di
rumah saja, mengurus anak-anak, Cuma ibu RT aja,… ga ada aktifitas
lainnya!” Duh,sebegitu hinakah profesi ini ?
Padahal ketika penulis berinteraksi dengan wanita barat sewaktu di
negeri Kanguru diantara mereka ada yang menjawab, “Wow, profesi yang
hebat tidak semua wanita mau menekuninya, I can’t do that!”
Ya,..karena mereka melihat betapa sulitnya untuk menjadi istri
sekaligus ibu yang baik bagi anak-anak. Saking beratnya, mereka
memilih memasukkan anak-anak mereka di child care. Anda akan melihat
dengan mata kepala sendiri panjangnya daftar antrian para orangtua
yang ingin memasukkan anak-anak mereka ke tempat penitipan anak
(childcare). Anda harus menunggu minimal selama 6 bulan sebelum nama
anak anda di panggil*. Rata-rata mereka memilih bekerja daripada
mengasuh anak dirumah. Suatu fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa
para ibu dikalangan wanita barat memilih “melarikan diri” dari tugas
dan tanggungjawabnya sebagai ibu dengan bekerja. Mereka bilang kepada
penulis lebih mudah bekerja daripada tinggal dirumah mengasuh
anak.Mengasuh anak membuatku stress! Itu yang penulis dengar. Bukankah
itu suatu bukti bahwa mengurus anak-anak adalah suatu pekerjaan dan
tanggung jawab yang berat? Lalu dimana penghargaan masyarakat kita
terhadap ibu? Terlebih suami?
Itu baru dilihat dari satu sisi saja,…tidakkah anda melihat bahwa
seorang istri atau ibu dirumah tidak pernah berhenti dari
tugasnya?.Jika para suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara
8-10 jam misalnya maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai
jam kerja yang lebih panjang yaitu selama 24 jam. Ia harus standby
(selalu siap) kapan saja diperlukan. Bila diantara anggota keluarga
ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu? Bukankan
seorang ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster)
bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha
meringankan beban sakit “sang pasien” dirumah sebelum di bawa kerumah
sakit (yang sebenarnya) apabila ternyata sang ibu tidak sanggup
mengobatinya. Pernahkah anda memikirkan berapa jumlah uang yang harus
anda keluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi
dirumah anda?
Bukankah seorang ibu juga seorang psikolog? Karena tentu anda melihat
sendiri kenyataan ketika datang anak-anak mengeluh dan mengadu atas
kesusahan atau penderitaan yang mereka alami maka sang ibu berusaha
mencari jalan keluar dengan saran, nasehat dan belaian kasih sayang.
Begitupula suami ketika merasa resah dan gelisah bukankah istri
menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu suami
meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang
dihadapinya. Penulis lihat sendiri betapa mahalnya bayaran seorang
psikolog di Australia ada diantara mereka yang harus membayar $100
perjam dan tentu saja tidak ada jaminan mereka bisa membantu
menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi.
Bukankan seorang istri/ibu dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah
anda membayangkan wahai para suami, anda memiliki juru masak dirumah
yang selalu siap anda perintah kapan saja anda mau. Anda memiliki juru
masak pribadi dirumah, ketika anda pulang ke rumah maka hidangan lezat
tersedia bagimu dan juga untuk anak-anakmu. Pernahkah anda
membayangkan berapa juta uang yang harus anda keluarkan untuk
mengundang juru masak pribadi datang kerumah anda?
Masih banyak sisi lain yang tidak mungkin penulis sebutkan satu
persatu. Anda tentu pernah membaca syair Arab yang sangat terkenal
yang berbunyi :” Al-Ummu madrasatun idza a’dadtaha ‘adadta sya’ban
tayyibul ‘araq” maknanya “seorang ibu adalah sebuah sekolah. Jika
engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah
mempersiapkan sebuah generasi yang unggul”. Ditangan ibulah masa depan
generasi sebuah bangsa.Karena itulah islam sangat menghormati dan
menghargai profesi ini. Kenyataan yang tidak bisa di pungkiri bahwa
kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan sang ayah.** Karena
Islam melihat tanggung jawab yang berat yang di emban seorang ibu, itu
menandakan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang
mulia dan sangat terhormat. Lalu mengapa kita masih malu ya ukhti??
Ayo,..angkatlah wajahmu dan katakan dengan bangga bahwa aku adalah
seorang “ibu rumah tangga!!” sebuah profesi yang sangat berat dan
tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untukmu. Al-jaza’u
min jinsil amal artinya balasan tergantung dari amal/perbuatan yang ia
lakukan.Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba
maka pahala yang akan didapatinya pun semakin besar. Wallahu a’lam
bisshawwab.

Footnote:
*Tak jarang para orang tua ada yang harus menunggu selama 1 tahun
karena penuh dan banyaknya antrian (waiting list) dari tahun
sebelumnya.
**Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan, ada seorang
yang datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam seraya
bertanya :”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya
pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab: Ibumu! Orang itu bertanya
lagi: “Lalu siapa?” Ibumu! Jawab beliau. Lalu siapa lagi? Tanya orang
itu, Beliaupun menjawab: Ibumu!, Selanjutnya bertanya:”Lalu siapa?”
Beliau menjawab: Ayahmu” (Mutaffaqun Alaih).
Imam Nawawi mengatakan; Hadits tersebut memerintahkan agar senantiasa
berbuat baik kepada kaum kerabat dan yang paling berhak mendapatkannya
diantara mereka adalah ibu, lalu ayah dan selanjutnya orang-orang
terdekat.
Didahulukannya ibu dari mereka itu karena banyaknya pengorbanan,
pengabdian, kasih sayang yang telah diberikannya. Dan, karena seorang
ibu telah mengandung, menyusui, mendidik, dan tugas lainnya” tutur
para ulama (lihat Al-Jami’ Fi fiqh Nisa bab birru walidain Syaikh
Kamil ‘Uwaidah)
Muraja’ah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc


Pola yang mana hidup anda ?

10 Maret 2008

Posisi – Kecepatan – Percepatan ( y , v , a )

Ternyata dalam hidup ini berlaku juga ilmu posisi, kecepatan dan percepatan.
Dalam kehidupan terdapat 3 pilihan mental manusia dengan jenis masing2.. hal terburuk adalah apabila kita menjadi seseorang dengan mental “posisi”, karena didalam ilmu fisika, posisi adalah kedudukan sebuah benda sebelum dia bergerak. lalu ada lagi seseorang dengan mental “kecepatan”, di dalam ilmu fisika kecepatan adalah hal yang konsisten.. dan ada lagi seseorang dengan mental “percepatan”, dimana kita terus meningkatkan kecepatan setiap detiknya.. Baca entri selengkapnya »


Renungan Sufi

10 Maret 2008

Tuhann  dosaku menggunung tinggi,
Tapi Rahmat-Mu.. Melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanya setitik, Nikmat-Mu di bumi

Tuhan, walau taubat sering kuukir.
Namu pengampunan-Mu ‘tak pernah bertepi..

Bila selangkah kurapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku


Lelaki renta itu bernama “PAPUA”

10 Maret 2008

Lelaki renta itu bernama “PAPUA”
: a. muttaqin

rambutnya yang keriting kusam menguning
badannya yang legam tonjolkan tulang

ia duduk memeluk lutut
diatas bukit sintani dihamparan batu menghitam
memandang kebawah dengan mata cekung nya
melihat kesibukan pekerja dengan mesin penggali

dibawah sana mereka kenyang
diatas sini sang lelaki kelaparan
dibawah sana mereka terbalut jeans
diatas sini hanyalah koteka bertelanjang dada

kedap kedip mata sang lelaki mengusir lalat yang hinggap
ketika gerobak emas berlalu tinggalkan debu

sejak empat puluh tahun yang lalu
tetap saja kereta emas itu hanya berlalu

sudahlah lelaki renta,emas itu bukan untukmu
tetapi untuk tuan tuan dibenua sana
sedikit untuk penguasa penguasa negrimu
sedikit lagi untuk tentara tentara penjaga itu

hormati saja benderamu
nyanyikan saja lagu kebangsaanmu
tetap saja emas itu bukan untukmu

lalu,lelaki itupun menggumam lirih ;
“..indonesia tanah airku..tanah tumpah darahku. disanalah aku berdiri,jadi
pandu ibuku.., indonesia..kebangsaanku..bangsa dan tanah airku…marilah
kita berseru..indonesia bersatu…”

lalu, lelaki itupun mati.

Maret, 2006
dari borneo, untuk papua


KIDUNG SENJA MAHAKAM

10 Maret 2008

KIDUNG SENJA MAHAKAM
* a. muttaqin
=============
aroma basah menguap menyapa indra ciumku
saat rintik pasrah dibonceng semilir bayu
bayang dedaunan menari dipantulan jingga
teriring nada dari perahu ketinting yang pulang

hela nafas panjangmu sejenak menyibak hening
namun tak jua mampu menyeret gumpalan gundah
kita terjepit disela cita dan cinta
yang akan menuntut hamparan rindu

entah sudah seberapa sering kuresapi bening hitam bola matamu, yang kali ini
terbalut basah
namun selalu saja aku terperangkap dalam buaian yang melenakan
sejenak sanggup kusisihkan galauku akan perpisahan
untuk terbenam masuk dalam daya magis tatapanmu

tak jua kata mampu kuungkapkan
tak jua janji mampu kuikrarkan
yang kutau kita hanyalah milik sang waktu
di-lorongnya-lah kegelapan hari esok kan tersibak

jingga kini tlah temaram
berangsur anak mahakam naik ketepian
sisakan canda pada tali tali sampan
merangkul erat tiang tiang jembatan

butiran beningmu tlah mengering
tanpa sanggup hadirkan pasti
erat genggammu iringi langkah
tinggalkan kisah disepenggalah senja

—– Samarinda, ujung penghujan 2006
setelah delapanbelas musim berlalu —–